MENGENAL KALENDER HIJRIYYAH

BACA JUGA :


Kalender Hijriyyah
Dalam catatan sejarah di Indonesia tempo dulu sampai abad ke-20, kalender Hijriyyah masih dipakai oleh kerajaan-kerajaan di nusantara. Bahkan raja Karangasem di Bali, yang bernama Ratu Agung Ngurah yang beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh 1313 Hijriyyah (1894 M).

Kalender Masehi baru secara resmi dipakai di seluruh Indonesia mulai tahun 1910 dengan berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaan schap, hokum yang menyeragamkan seluruh rakyat Hindia Belanda.

Perbedaan Penanggalan Masehi dan Hijriyyah
Sistem penanggalan kalender Masehi  berdasarkan kepada lamanya perputaran bumi mengelilingi matahari ( syamsiah ), dalam sekali putaran selama 365 ¼ hari, lalu dibagi 12 bulan. Ada 7 bulan yang jumlahnya 31 hari, ada 4 bulan berjumlah 30 hari, dan 1 bulan jumlahnya 28 hari. Awal perhitungan kalender Masehi dimulai pukul 00.00.

Sedangkan penanggalan kalender Hijriyyah berdasarkan lamanya perputaran bulan mengelilingi bumi ( qamariyah ), dalam sekali putaran 29 ½ hari. Untuk memudahkan perhitungan, maka bulan Hijriyyah ada yang berjumlah 29 hari, dan yang ½ hari digenapkan ke bulan berikutnya, 30 hari. Awal perhitungan Hijriyyah dimulai pada saat matahari terbenam.

Hijriyah, di masa sebelum Islam
Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab udah menggunakan nama-nama bulan Hijriyah ini, namun disesuaikan dengan kalender Masehi. Bulan pertama September, disebut Muharram, sebab pada bulan tersebut semua kabilah sepakat mengharamkan peperangan. Bulan kedua, Oktober, daun-daun sedang menguning disebut bulan Shafar( kuning ), Nopember dan desember musim gugur ( rabi’), disebut rabi’ul Awal dan Rabi’ul Tsani, Januari dan Februari adalah musim dingin ( jumad=beku) disebut Jumadil Awal dan Jumadil Tsani, kemudian salju mencair ( rajab) pada bulan Maret. April adalah musim semi, saat untuk mengolah lahan, disebut Sya’ban(syi’b = lembah ). Pada bulan Mei suhu mulai panas membakar kulit, disebut ramadhan ( membakar ) pada Juni suhunya meningkat, disebut Syawal ( meningkat ), pada Juli puncaknya panas, membuat orang lebih suka duduk di rumah tidak bepergian disebut Zulqaidah(qa’id=duduk), pada bulan Agustus orang Arab biasa menunaikan ibadah haji, disebut Zulhijjah.

Hijriyyah, di zaman Islam
Setelah masyarakat Arab memeluk Islam dan bersatu di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW, turun perintah Allah agar menggunakan kalender Qamariyah secara murni, seperti yang tercantum dalam QS At-taubah ayat 36-37. Hikmahnya adalah bulan-bulan Hijriyyah selalu bergeser setipa tahun, umat Islam tidak selalu shaum Ramadhan pada musim panas. Islam adalah untuk semua umat manusia di seluruh penjuru dunia yang letak geografisnya berbeda-beda.
Kalender Hijriyyah mulai dipergunakan pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab atas usul Ali bin Abi Thalib, dengan alasan, pertama, Al Qur’an sangat menghargai orang-orang yang berhijrah. Kedua, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah. Dan ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan memiliki semangat hijrah.

( dari Majalah Media Pembinaan, tulisan Sdr. Asep Sugiharto )
0 Komentar untuk "MENGENAL KALENDER HIJRIYYAH"

Back To Top