Poligami, antara Muhammad Natsir dan Soekarno

BACA JUGA :


kisahislami.com
 Muhammad Natsir Datuk Sinaro Panjang, demikian nama aslinya. Beliau lahir pada 17 Juli 1908 di Sumatera Barat. Natsir merupakan seorang muslim yang patuh dan taat pada syariat Islam. Dalam hal perkawinan, Natsir termasuk seorang pendukung poligami. Poligami, menurut Natsir, adalah seperti apa yang dilakukan Rasulullah SAW, yakni didasari niat untuk menolong para janda korban perang yang masih memiliki anak-anak kecil yang harus dibesarkan atau melindungi keimanannya.

Sirah Nabawiyyah telah memperlihatkan bahwa Rasululah SAW yang berusia 25 tahun menikah dengan Khadijah yang sudah berusia 40 tahun. Usia pernikahannya hingga Khadijah meninggal dunia adalah 25 tahun, yang dijalaninya dengan monogami. Setelah Khadijah wafat, Nabi yang berusia 50 tahun menduda selama lebih kurang 6 tahun dan kemudian menikah lagi dengan seorang janda berusia 70 tahun dengan 12 anak bernama Saudah. Lalu Rasulullah menikah lagi dengan Zainab binti Jahsy, janda 45 tahun, dan juga Ummu Salamah, janda 62 tahun. Setahun kemudian menikah lagi dengan Ummu Habibah, janda 47 tahun dan Juwairiyyah, janda 65 tahun. Dari 11 istrinya, hanya dua yang gadis, yakni Mariyah binti Qibtiyah, hadiah dari Raja Mauqaqis, yang berusia 25 tahun, dan Aisyah, yang diminta olah ayanhnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika menikah dengan Muhammad, Aisyah telah berusia 19 tahun, bukan 9 tahun ! ( baca “ Muhammad SAW The Super Leader”, Dr. M. Syafii Antonio; h.302-304).
Disebabkan memahami dengan baik dan lurus, maka walaupun menyetujui poligami dalam Islam, namun Natsir tetap setia dengan satu isteri hingga akhir hayatnya. Karena untuk menjalankan poligami, terdapat syarat-syarat teramat khusus yang tidak bisa diplintir seenaknya.
Dalam hal poligami terdapat satu episode lucu ketika Soekarno menyatakan kepada Natsir dengan terbuka bahwa dirinya tidak setuju dengan poligami, namun hal ini dibantah oleh Natsir yang mendukung syariat poligami. Walau demikian, merupakan fakta jika Soekarno ternyata memiliki banyak isteri dan Natsir setia dengan satu isteri.
Nah, sekarang banyak orang Islam-walau tidak semuanya-yang mengambil “ kebaikan” dari keduanya; menjalankan poligami yang memang dibolehkan oleh Islam, namun untuk itu mereka menikahi perempuan-perempuan muda nan molek, bahkan perawan, ikut “ sunnah”nya Soekarno, dan tidak mengikuti Rasulullah SAW yang berpoligami dengan janda-janda tua, bahkan nenek-nenek, dengan bawaan anak yang banyak. Hal ini banyak dilakukan oleh pengikut madzhab “ DARIPADA MENDINGAN”.
Jadi, berfikirlah seribu kali untuk menolak poligami, dan berfikirlah sejuta kali untuk melakukan poligami !

( @ mp magazine )
Termasuk Kategori : Dunia Akhwat, Sejarah
0 Komentar untuk "Poligami, antara Muhammad Natsir dan Soekarno"

Back To Top