Mengintegrasikan Sains dan Agama

BACA JUGA :


Tidak ada seorang pun yang meragukan kehebatan Albert Einstein, sang ilmuwan besar abad XXI. Sampai-sampai penulis terkenal Michael H Hart dalam buku fenomenalnya, 100 Tokoh Yang Mempengaruhi Dunia berani menampatkannya di urutan 10 besar bersama Nabi Muhammad SAW, Isaac Newton, Nabi Isa as, Buddha, Khong Hu Cu, Santa Paul, Ts’ailun, Johann Gutenberg, dan Christopher Columbus. Salah satu rumus fisika terkenal yang keluar dari pikiran briliannya adalah e=mc². Konon rumus inilah yang menginspirasi lahirnya bom atom yang meluluhlantakkan Kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada perang dunia kedua.

Banyak yang bisa kita ambil inspirasi dari sosok ilmuwan besar ini. Salah satu ungkapannya, “ The science without religion is fall, and the religion without science is blind” ( ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta). Ungkapan tersebut bukan tanpa makna, tetapi menyiratkan makna yang sangat dalam terkat pentingnya integrasi antara sains dan moral agama. Apalagi menurut konteks sejarahnya, ungkapan ini lahir dari penyesalan Einstein setelah melihat efek kehancuran yang menyedihkan akibat bom atom yang terinspirasi dari gagasan keilmuannya.

Secara tersirat dalam ungkapan terkenalnya itu Einstein sepertinya ingin menginformasikan bahwa sains sangat tidak bebas nilai, sains itu harus sarat dengan nilai. Nilai yang dimaksud tentunya sangat berkaitan erat dengan nilai moral. Tidak bisa dipungkiri, sampai detik ini, agama adalah salah satu di antara modal sosial yang masih kuat menjaga, memelihara, dan mengajarkan nilai-nilai moral. Nilai moral inilah yang seringkali dilupakan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Einstein mengajarkan bahwa sains dan moral agama tidak bisa dipisahkan. Keduanya mesti berjalan beriringan saling memberi isi, “ rasa” dan makna. Bagi Einstein, sains tanpa tuntunan moral agama hanya akan melahirkan sains yang bersifat destruktif. Sebalikya, agama tanpa balutan logika sains hanya akan melahirkan ekspresi keagamaan yang bersifat fanatisme buta. Keduanya bila dipisahkan akan sangat berbahaya untuk hidup dan kehidupan manusia.

Sering kali kita mempersepsikan bahwa tidak ada benang merah yang bisa diambil terkait hubungan sains dan agama ini. Sadar ataupun tidak sadar kita sering terjebak pada sikap sekulerisme, yang memperlakukan secara dikotomis antara keduanya. Sains hanya untuk dunia dan agama hanya untuk akhirat.

Persepsi inilah yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas kita dalam proses pembelajaran di sekolah. Tujuan pembelajaran satu mata pelajaran sudah kita anggap berhasil ketika kita mampu mentransfer informasi sains kepeda peserta didik. Ukuran keberhasilan peserta didik dianggap” lulus” ketika mereka mampu mendapatkan standar nilai maksimal. Sementara esensi inti dari pendidikan, yakni menjadikan manusia seutuhnya yang memiliki keterikatan dengan nilai moral, seringkali terabaikan dalam target dan tujuan pembelajaran.

Secara filosofis sains dan agama dari Allah SWT. Karena bersumber dari satu sumber yang sama tentu keduanya akan memiliki isi, “ rasa”, dan makna yang sama. Inilah sebabnya kenapa para filsuf besar Barat mulai dari Thales, Socrates, Plotinus, Thomas Aquinas, Rene Descartes, sampai Wiliam James, dan bahkan fisikawan abad ini Stephen Hawking, dalam kadar pemahaman masing-masing, mengkampanyekan pentingnya akal dan hati dalam memahami sains dan moral agama.

Sumber : HU Pikiran Rakyat
Termasuk Kategori : Dunia Mengajar, Tokoh Pendidikan
0 Komentar untuk "Mengintegrasikan Sains dan Agama"

Back To Top