Penelitian Ilmiah Tentang Cara Berjalan Kaki

BACA JUGA :

pejalan kaki
Seorang muslim seharusnya sangat menghayati makna yang difirmankan Allah yang dengan sangat tegas melarang sikap mubazir karena sesungguhnya kemubaziran itu adalah benar-benar temannya syetan.

Dengan penghayatan ini tumbuhlah sikap yang konsekuen dalam bentuk perilaku yang selalu mengarah pada cara kerja yang efisien ( hemat enerji ).

Dengan demikian ia akan selalu berhitung efisien artinya selalu membuat perbandingan antara jumlah keluaran ( performance ) dibandingkan dengan enerji ( waktu, tenaga ) yang dia keluarkan. Demikianlah karena setiap pribadi muslim sangat menghayati arti waktu sebagai aset.

Levine, guru besar psikologi dari California State University, melakukan penelitian dengan mengamati kecepatan para pejalan kaki lewat studi perbandingan di beberapa negara, diantaranya Tokyo ( Jepang ), Taipe ( Taiwan), Roma ( Italia ), London ( Inggris ), New York ( AS), dan Jakarta ( Indonesia ).

Perspektif waktu menurut survei yang dilakukan dan dimuat di majalah Psychology Today, berpengaruh luas terhadap proses psikologis mulai dari motivasi, emosi, dan spontanitas sampai kepada kesiapan menempuh resiko, kreativitas dan penyelesaian persoalan.

Di setiap kota tadi, Levine dan asistennya, Keth Bartlett, menguji 15 jam, mengamati 100 pejalan kaki. Pejalan kaki yang diamati hanya orang yang berjalan sendirian di tengah jam sibuk pada cuaca terang.
Dari hasil penelitiannya diperoleh fakta bahwa untuk menempuh 100 kaki ( 23,8 meter ), ternyata Jepang tampil sebagai juaranya. Data lengkapnya sebagai berikut :

Waktu pejalan kaki setiap 100 kaki ( 23,8 m)
Negara – Kecepatan/detik berjalan kaki
1.       Jepang
20,7”
2.       Inggris
21,6”
3.       Amerika
22,5”
4.       Italia
23,6”
5.       Taiwan
24,2”
6.       Indonesia
27,2”

Dari data di atas, Indonesia merupakan negara paling lamban dalam hal berjalan kaki ( alias nyantai ).

Dari hasil penelitian di atas, tampaknya Jepang adalah negara yang paling dapat menghargai waktu dan hal itu dapat dilihat dari kecepatan berjalan dan kecepatan melakukan suatu pekerjaan. Ketepatan waktu dan kecepatan berjalan mempunyai korelasi positif dengan produktivitas dan efisiensi.
Sedangkan Ir. Siswono Yudohusodo dalam makalahnya “ Lokakarya General Management”, mengamati tenaga kerja Indonesia dan Korea di Arab sebagai berikut :

Tenaga Kerja Korea
Setiap hari kerja datang secara rombongan dengan bus, setengah jam sebelum waktu kerja. Keluar bis langsung berbaris, di dada pakaian kerjanya terjahit lambang negaranya. Setelah selesai berhitung, hadap kanan terus lari menuju tempat-tempat kerja. Bila tempat kerja di atas menara atau gedung, mereka tetap lari memanjat tangga atau alat-alat besar lainnya. Setengah jam sebelum usai kerja pada sore hari mereka berhenti keja, membersihkan peralatan-peralatan dan mesin-mesin sampai mengkilap, lalu berbaris pulang ke bus masing-masing bagaikan barisan tentara.

Tenaga Kerja Indonesia
Keluar dari bus, berjalan seenaknya sambil merokok atau duduk-duduk dulu santai. Pada waktu pulang, kejadian berulang dengan santai memasuki bus sambil merokok dan peralatan serta mesin hanya dibersihkan secukupnya.
Penelitian yang dilakukan secara scientific tersebut cukuplah bagi kita untuk memperteguh kembali sebuah keyakinan bahwa pribadi muslim adalah manusia yang sangat memperhatikan produktivitas. Dirinya merasa dikejar oleh suatu “ hutang” yang harus segera dibayar apabila kehidupannya tanpa makna, apalagi tidak produktif. Seorang muslim sadar bahwa Allah menciptakan langit dan bumi sebagai ujian, siapa manusia yang paling prestatif amalnya ( Al Kahfi : 7 ).

Sayangnya, kita punya ayat orang punya hasil, bagaikan peribahasa, sapi punya susu, kerbau punya nama.

( Syukron 'ala Pak Toto Tasmara )


Termasuk Kategori : Menata Hati
0 Komentar untuk "Penelitian Ilmiah Tentang Cara Berjalan Kaki"

Back To Top