BELAJAR SABAR DALAM MENDIDIK ANAK

BACA JUGA :

Mengatur emosi, utk kemudian mengekspresikannya dengan cara yang tepat adalah hal yg kita “pelajari” pada awal2 tahun kehidupan dan tentunya saat ini hal tsb sdh terinternalisasi sebagai bagian dari karakter dan kepribadian kita. Karena itu, ketika kita menjumpai bahwa ternyata kita belum dapat mengatur dan mengekspresikan emosi kita dengan tepat, maka diperlukan motivasi yang sangat kuat dalam diri kita utk berubah dan mjd pribadi yg lebih matang secara emosi.

Subhanallah…. Anak yg kita miliki pd hakikatnya adalah amanah yg ALLAH berikan. Amanah tsb tentunya hrs kita jaga sebaik mungkin shg dia bs berkembang dgn optimal dlm segala aspek, termasuk di dlmnya aspek emosi. Salah satu hal yg bs mjd motivator terbesar bagi seorgtua utk bs berubah mjd lebih baik adalah anak. Kita sbg orgtua tentunya menginginkan agar anak2 kita bs mjd individu yg memiliki rasa percaya diri yg tinggi, kritis, memiliki rasa ingin tahu yg tinggi, berani bertanya, memiliki toleransi terhadap stress yg tinggi, memahami kekuatan dan kelamahan dirinya, memiliki rasa empati yg tinggi, penuh rasa syukur terhadap penciptaNYA, mampu mengatur dan mengekspresikan emosinya dgn tepat, dan seluruh karakter positif lainnya. Dan sebagai “sekolah” pertama bagi anak, maka mereka pastinya akan mengadaptasi dan mengimitasi seluruh karakter orgtua di rumah.
Berdasarkan penelitian di bidang Neurologi, ternyata anak-anak yg seringkali mendapatkan label/ucapan yg negatif, teriakan2 atau bentakan2 dari lingkungannya, maka batang otak si anak akn mengalami pembengkakan yg akan menekan sistem limbik yg sangat berperan dalam mengendalikan emosi. KArena itu, tak heran bila anak2 yg kerap kali mendapatkan label2 negatif, bentakan dan teriakan apalagi dengan hukuman fisik, maka kelak ia akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi serta dalam membentuk konsep diri yg positif.

Hal ini lah yg sebaiknya perlu disadari oleh kita para orgtua utk mau berubah dan belajar utk mengatur dan mengendalikan emosi dgn lebih baik lagi.
Karakter anak2 usia 3 -5 thn memang masih cenderung egosentris. Biasanya anak2 pd usia ini dirasakan banyak orgtua menampilkan perilaku yg “menyebalkan”. Mereka biasanya tdk mau turut perintah orgtua, tdk mau mengerjakan hal2 yg diperintahkan dan malah mengerjakan hal2 yg tdk disukai orgtua. Namun karena hal2 tsb memang sangat wajar pada anak2 usia tsb, maka sebaiknya kita sbg orgtua hrs bs lebih bijak dan cerdas dlm memandang masalah tersebut. Anak memang tetap hrs diberitahu dan diajarkan ttg norma2 dan aturan yg berlaku dalam lingkungan dan keluarga, namun cara-nya tetap hrs disesuaikan dgn usia dan tingkat pemahaman anak. Selain itu, hal lain yg perlu diketahui oleh orgtua adalah, semua perilaku anak, pada dasrnya adalah bertujuan utk memancing perhatian dari kita orgtuanya. KArena itu, berikan perhatian yg besar saat anak menunjukkan perilaku yg kita harapkan, dan cukup kita abaikan saja perilaku anak yg negatif.
Ada beberapa hal penting yang bisa kita lakukan sehubungan dengan malatih diri kita sebagai orgtua dalam upaya meningkatkan kemampuan pengendalian emosi, antara lain adalah :
1. Bila kita tdk ‘siap’ menghadapi anak yg saat itu sedang marah, menangis, teriak2, atau menunjukkan perilaku2 tantrum lainnya, maka sebaiknya kita ‘menyingkir’ terlebih dahulu utk menenangkan diri. Segera pindah dari hadapan anak, dan lakukan aktivitas2 yg bisa membuat kita lebih siap menghadapi anak dgn segala perilakunya. Ibu auat bapak bisa mengambil air wudhu, atau mandi, atau sholat sunnah 2 rakaat, atau masuk ke dalam kamar tidur utk berbaring sebentar, atau melakukan aktivitas2 lain yg bs membuat kita lebih tenang. Setelah kita merasa lebih siap, barulah kita masuk ke ‘arena’ anak tanpa mudah terpancing dgn perilaku tantrum anak.
2. Ketika anak sedang tantrum atau marah, kita tdk perlu menasehati panjang lebar. Cukup dengan memasang wajah afek datar dan abaikan segala perilaku tantrum tersebut. Nanti, ketika anak sdh tenang, barulah kita peluk, cium sambil kita katakan bahwa betapa kita sangat mencintainya. Sampaikan pada anak mengenai perasaan Ibu atau Ayah bila sang anak marah2, teriak2, melawan, pukul, banting2 barang, dll, dan tidak perlu nasihat yg panjang dan lebar. Jangan lupa, ketika anak menunjukkan perilaku yg positif, berilah apresiasi pada anak. Bisa dengan pujian yg disertai dengan senyum termanis dr Ibu dan Ayah, pelukan, ciuman, dll. Story telling atau mendongeng atau bercerita pada anak, juga merupakan terapi yg sangat efektif dalam membentuk karakter2 positif pada Balita kita. Ayah dan Ibu bisa membeli buku atau cukup “mengarang” cerita dengan konteks yg sesuai dengan masalah anak.
3. Orgtua, Ayah dan Ibu juga harus memiliki waktu utk diri sendiri. Pd waktu ini, Ayah dan Ibu bisa melakukan aktivitas2 yg sifatnya relaksasi atau dengan mengerjakan hobby yg bs mengobati rasa jenuh. Tidak perlu waktu berjam2 lamanya, mendengarkan musik, membaca buku, berendam dibath tub dgn air yg hangat, olah raga, menelpon teman lama, merangkai bunga, berkebun, makan malam di luar bersama teman, adalah contoh2 aktivitas yg bisa dilakukan ayah dan ibu yg bisa membuat otak dan hati kita mjd lebih fresh. Dengan demikian diharapkan kita bisa jauh lebih siap dalam menghadapi segala perilaku anak.
4. Hal yg tak kalah penting adalah dengan banyak berdo’a dan selalu memohon kepada ALLAH SWT agar kita senantiasa diberikan keshabaran dalam mendidik anak-anak kita.
Demikian sharing dari saya. Semoga ALLAH SWT membantu kita utk mjd orgtua yg bijaksana, shabar, cerdas dan kreatif dalam mendidik, mengasuh dan membesarkan sang cahaya mata.
Termasuk Kategori : Dunia Akhwat, Dunia Mengajar
0 Komentar untuk "BELAJAR SABAR DALAM MENDIDIK ANAK"

Back To Top