Cara Berbahagia dan Teknik Menderita

BACA JUGA :



Cara Berbahagia dan Teknik Menderita

Dengan gerak-gerik yang penuh ketentraman dan wajah teduh bagai telaga yang dilingkungi pohon-pohon rindang, Al-Muhammad, lelaki terpuji, setiap hari menerima di rumahnya orang-orang yang berduka.

“Setiap makhluk Allah diletakkannya dalam ruang dan waktu,” katanya,” baik dalam wilayah system ruang waktu yang kita fahami, maupun yang di luar itu yang diantarkan oleh Allah kepada manusia-manusia tertentu melalui karamah ilmu fisika tinggi.”


“ Demikianlah pepohonan berakar di tanah, demikianlah air kalian tuangkan ke dalam cangkir, atau api kalian singgasanakan di sumbu berminyak. Juga situasi jiwa manusia, kegembiraan, kebingungan, duka derita, atau apa saja, memerlukan ruang dan waktunya sendiri. Maka wahai yang tercinta saudara-saudaraku, untuk apa sesungguhnya kalian member ruang dan waktu sedemikian luas kepada rasa duka ? Masukilah ruang dan genggamlah waktu, habiskan untuk mengerjakan segala sesuatu yang diinginkan Allah. Jangan beri tempat dan kesempatan kepada rasa sengsara.

Para tamu itu biasanya membantah, “ Rasa sedih itu menyerbu kami melalui masalah-masalah, ya Al-Muhammad. Sekali-kali tidaklah kami memanjakan diri menampung kesedihan perasaan!”.
“ Pakailah waktu untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk meratapinya,” jawab Al_muhammad.
“ Kami memohon kekuatan dan doa untuk itu “
“ Kalau rumahmu terbakar, panggilah pemadam kebakaran atau ambil ember dan air untuk membunuh api, itulah cara berdoa tentang rumah kebakaran. Kalau anak istri memerlukan makan, pergilah mencari nafkah, bukan meminta Tuhan mengirimkan uang. Sebab Allah selalu mengirimkan rejeki-Nya melalui khalifah-khalifah-Nya yang bertebaran di tempat-tempat kerja kalian.”

“Tetapi ya Al-Muhammad,”orang-orang membantah, “ mencari nafkah sekarang tidaklah makin gampang. Jika kami berlaku jujur, kami memperoleh sedikit uang dan lima kali lipat kesedihan!”.
“ Jangan lupa kalian juga memperoleh seratus kali lipat makna kesabaran dan pahala kejujuran.”

Berjam-jam para tamu itu biasanya lantas memperbincangkan soal itu, sampai kemudian setelah larut waktu, Al-Muhammad berkata :
“ Adapun sesudah kerja keras yang halal dan thayyib, sesudah usaha gigih untuk bersama-sama menciptakan tatanan yang lebih menjamin kejujuran, kalian masih juga didera oleh tusukan jarum-jarum kesedihan; dengarkanlah betapa Allah telah mengajarkan cara berbahagia dan teknik menderita.

“ Dituntunlah kita yang lemah dan cengeng ini agar berbahagia tidak dengan cara melonjak-lonjak dalam pesta pora, serta berduka tidak dengan meratap-ratap penuh air mata. Segala penghasilan suka duka, kita bawa bersembahyang, lima kali sehari atau ratusan rakaat sunnah lainnya. Kita angkut perasaan itu ke atas kendaraan jiwa yang bernama istiqomah dan muthma’innah, teguh tegak dan tenang tentram. Kita ucapkan Allahu Akbar dengan mentalitas jiwa yang matang. Dalam bahagia kita ucapkan Allahu Akbar, dalam duka kita ucapkan Allahu Akbar. Karena apapun yang kita alami dan kita ketahui dalam menjalani kehidupan ini, hanyalah jalan untuk memperoleh ketakjuban kepada betapa agungnya Allah. Kalau senang kita takjub dan tersenyum. Kalau sedih, kita takjub dan tersenyum.”

( Renungan Emha Ainun Nadjib, dalam " Tahajjud Cinta Seorang Hamba" )
Termasuk Kategori : Kolom Emha, Menata Hati, Tassawuf
0 Komentar untuk "Cara Berbahagia dan Teknik Menderita"

Back To Top