Napak Tilas Pantai Waduk Jangari

BACA JUGA :

Rutinitas pekerjaan sering membuat kita menjadi jenuh dan tentu letih.
Mengambil waktu untuk istirahat, sebuah langkah yang tepat. Selain
menyegarkan badan juga merefresh fikiran. Anda mungkin punya tempat
pavorit untuk istirah dan melepaskan ketegangan sementara pada
aktivitas yang dilaksanakan. Biasanya, kalau saya, ketika penat sudah
merasuk tubuh, bikin teh hangat atau kopi, lalu duduk di teras rumah
(kalau sedang di rumah), dinikmati seteguk demi seteguk, sambil
melupakan sejenak aktivitas. Badan dan fikiran lebih fresh lagi. Atau
kalau hari Ahad, biasa menyempatkan bersantai di pinggir pantai waduk
Jangari, sambil melihat lalu lintas perahu pengangkut penumpang, juga
pakan. Angin semilir menyegarkan badan dan fikiran.

Oh ya...berbicara mengenai Jangari, saya teringat masa remaja dulu,
sekitar kelas 2-3 SMP. Teman sekobong (ponpes), banyak orang Jangari.
Saya sering main ke rumah mereka. Kondisi Jangari dulu, jauh berbeda
dengan sekarang. Dulu, Jangari termasuk daerah terbelakang. Pekerjaan
masyarakatnya kebanyakan petani, dan pemburu babi hutan. Lho,
benarkah? Tiap rumah punya anjing pemburu. Tiap hari Minggu, di kebun
karet (sekarang berdiri mesjid megah, Al Falah) diadakan "ngadu
bagong", atau ngadu babi. Itu tontonan hiburan yang lumrah waktu itu.

Setelah PLTA Cirata yang membendung aliran sungai Citarum dan Cisokan,
imbasnya sebagian besar wilayah Kecamatan Mande terendam, keadaan
masyarakat di Jangari dan daerah lainnya yang berada di tepi waduk
berubah. Tanam ikan di jaring terapung mengubah semuanya. Jangari
sekarang menjadi daerah "dolar", banyak yang mendadak jadi bos dari
usaha memelihara ikan jaring terapung.

Bahkan, Jangari menjadi tujuan wisata baru bagi wisatawan. Dan ini
serius dikelola Pemda Cianjur. Ada cerita, waktu itu saya bersama
keluarga pulang dari Depok, dari Ciawi naik elf arah Cianjur.
Kebetulan semobil dengan dua turis asal Belanda, yang fasih berbahasa
Inggris. Sepanjang jalan kami ngobrol, dengan bahasa Inggris saya yang
hanya "litel-litel" he..he...tapi nyambung. Yang menarik, ternyata
mereka hendak menuju Jangari, sambil memperlihatkan "guide book"
keluaran kedubes mereka. Di sana mereka tunjukkan kata "Jangari".
Weh...bangganya saya, daerah kami ada dalam tourisme map mereka. Saya
katakan, kebetulan sayapun hendak ke jangari. Akhirnya kami bareng
menuju tujuan wisata mereka.

Hal ini membahagiakan. Keadaan ekonomi daerah Jangari dan sekitarnya
meningkat. Wisata dan perdagangan, menjadikan para pencari nafkah di
Jangari besar harap. Walau di sisi lain, besar pula kekhawatiran.
Prostitusi dan perjudian marak. Juga kemaksiatan lainnya.

Semoga ini menjadi catatan bagi semua pihak. Menghilangkan kemaksiatan
adalah pintu mendapat keberkahan....
Termasuk Kategori : Budaya Sunda
2 Komentar untuk "Napak Tilas Pantai Waduk Jangari"

Saua sendiri ikut bangga ..karna derah sayah di posting..namun benar harus ada penataan tempat yang kurang bagus dan bersih..serta tentang ada tempat prostitusi nya

Nuhun kang tos sindang ka blog abdi....

Back To Top