Menelusuri Generasi Tungkul Alias Nunduk

BACA JUGA :

Menjamurnya pengguna smartphone di kalangan remaja secara luas telah melahirkan generasi "nunduk" alias tungkul, dalam Bahasa Sunda. Asyik banget kalo remaja nunduk lantaran patuh kepada guru atau ortu. Lha ini, tunduknya pada smartphone lantaran mata nggak lleppas dari layar ponsel. Di mana saja, kapan saja, tuh smartphone nggak ketinggalan. Udah kaya dicangkok aja di telapak tangan.

Ngumpul sama temen atau keluarga bukanya ikut dalam pembicaraan malah asyik chatting online via BBM atau Whatsapp. Yang lain ngobrol seru-seruan diiringi tawa yang mencairkan suasana, eh dia malah nunduk ngobrol dengan kata-kata tanpa suara. Sampe ikut engajian juga bukannya nyimak tausiyah ustadznya malah kupasak-kusuk update status.

Generasi nunduk ini nggak biasa menatap lawan bicara saat berkomunikasi. Karena memang ia nggak berkomunikasi tatap muka dengannya temannya tapi dengan mesin. Cuma ngeliat tulisan nama dan avatar sebagai penggantinya.

Remaja Anti Sosial

Keasyikan remaja dengan smartphone menjadikan dirinya anti sosial tanpa disadari. Baginya, pertemnan, kebersamaan, dan komunitas hanya ada di dunia maya. Bukan di dunia nyata. Karena di dunia maya dia bisa terhubung dengan teman tanpa dibatasi waktu dan tempat. Bisa punya banyak friend list dan follower. Ngobrol sepanjang hari dengan mereka. Berbagi suka dan duka. Juga cerita tentang kesehariannya.

Padahal sejatinya, dunia maya itu semu. Saat kita curhat, kita nggak tahu apa ada yang peduli. Timeline penuh dengan status galau. Udah gitu, di dunia maya orang bebas berbohong ria tentang kehidupan dan identitasnya.

Generasi nunduk makin terisolir dari lingkungan sekitarnya. Sendirian di tengah keramaian. Apapun yang dikerjakannya, nggak bisa jauh dari smartphone. Waktu senggang dihabiskan untuk chatting atau update status di media sosial. Suasana angkutan yang penuh sesak udah kaya kuburan saja, masing-masing sibuk dengan smartphonenya. Penumpang di sampingnya dianggurin kaya makanan basi aja. Giliran nggak tahu jalan, lebih milih tanya ke Google Maps, cari info di waze, padahal di sekitarnya banyak orang yang bisa ditanya. Tapi cuek aja kaya hidup sendiri.

Tanpa disadari, generasi nunduk ini kehilangan kemampuannya untuk hidup bersama. Generasi ini pun makin alergi dengan kegiatan silaturahmi. Demam smartphone di kalangan remaja Muslim, telah mengikis produktivitas mereka di dunia nyata. Asyik sendiri di tengah keramaian. Persis kaya anak autis.

Tips

Cukuplah smartphone sebagai alat bantu komunikasi, bukan malah menghambat kita silaturahmi. Jadikan ia sebagai mediator kita berinteraksi di dunia maya, tapi jangan sampe membunuh kreativitas kita di dunia nyata. Smartphone memang bisa mendukung kegiatan dakwah, tapi berinteraksi langsung dengan orang, jauh lebih berkah.

Waktu hidup kita sangat terbatas, jangan habiskan waktu kita berkutat di internet. Karena saat kita sadar, hanya penyesalan yang tersisa. Berkaryalah, dengan sebanyak mungkin bergaul dengan orang secara langsung. Insya Allah itu bagian silaturahmi yang disyariatkan Islam.

Disadur dari Media Umat edisi 143, dengan penyesuaian seperlunya.

Sumber gambar : portal.paseban.com
Termasuk Kategori : dunia remaja, internet
0 Komentar untuk "Menelusuri Generasi Tungkul Alias Nunduk"

Back To Top