Yang Mesti Kita Lakukan Sekarang adalah Menjaga Lisan dan Berbaik Sangka

BACA JUGA :

Saya selalu teringat sebuah sabda baginda Nabi, " Salaamatul Insaan fii Hifdzil Lisaan", selamatnya manusia tergantung penjagaan atas lisannya. Konteks hadits ini sangat sesuai dengan kondisi kekinian yang makin tidak menentu dan sangat mudah untuk menggelincirkan manusia ke arah yang tidak baik.
Sebagai contoh, ramainya orang membicarakan kabinet Pak Jokowi, salah satunya yang menjadi sorotan adalah Sang menteri kelautan, Bu Susi. Bahan gunjingannya adalah mengenai tingkat pendidikan yang dijalaninya hanya setaraf SLTP.  Salah satu gunjingan yang saya dengar, " Ga usah tinggi-tinggi deh sekolahnya, lulusan SMP pun bisa jadi menteri!". " Apa ga ada orang lagi hingga Pak Jokowi milih Bu Susi jadi menteri?".

Sayapun terbawa dengan "cuaca" pergunjingan tersebut, hingga suatu saat muncul penyadaran akan kesalahan ini. Dalam Workshop di SMPN 1 Mande, salah seorang pemateri, Bu Hj. Nuraeni,M.Pd, melihat hal ini dari sisi dan sudut yang berbeda, benar-benar beda. Beliau menjadikan Kabinet Jokowi sebagai INSPIRASI. Jargon " Kabinet Kerja", " KERJA, KERJA, DAN KERJA" adalah cerminan bagi kita untuk menempatkan kerja sebagai bagian dari ghirah dan etos hidup. Tak peduli lulusan apa seseorang, namun yang lebih penting adalah KARYA apa yang ia hasilkan bagi kemaslahatan diri, keluarga, dan khalayak.

Terkadang kita banyak menggunjingkan sesuatu yang telah dan sedang terjadi. Namun, apakah dengan pergunjingan itu, sesuatu yang "salah" menurut persepsi kita itu akan berubah? Besar kemungkinan tidak akan ada perubahan apa-apa. Kita membahas habis-habisan, bahkan cenderung mencemooh, misal tentang pemerintahan sekarang. Namun saya yakin tidak akan ada perubahan. Saya kutip ucapan bijak Om Mario Teguh dalam " Mario Teguh Golden Ways" beberapa waktu lalu. Om Mario berkata, " SESUATU TIDAK SELALU BERJALAN MENURUT YANG KITA MAU. KITA HARUS BISA MENERIMA SUATU KEADAAN BARU YANG TIDAK BISA KITA UBAH" Dan sekarang sesuatu itu sudah berubah, dan mungkin tidak sesuai dengan keadaan yang kita harapkan.

Ketika kata-kata cemoohan tidak bisa merubah apa-apa, maka alangkah bijaknya bila kita ubah persepsi dan sudut pandang. Kita ambil kebaikan walau sedikit, seperti yang dicontohkan Nabi Isa A.S. Ketika para sahabat mengatakan jijik kepada bangkai seekor anjing, Nabi Isa sebaliknya. Ia mengatakan, " Alangkah putihnya gigi anjing itu". Artinya, SELALU ADA KEBAIKAN dalam setiap kondisi dan fenomena. " Robbanaa Maa Kholaqta Haadzaa Baathila".

Akhir kalam, saya sitir ucapan "idola" saya, Emha Ainun Nadjib, " Di saat seperti ini, yang kita mesti lakukan adalah MENJAGA MULUT dan INTROSPEKSI". Wallahua'lam.

Semoga bermanfaat !
Salam Guru Blogger Cianjur
Termasuk Kategori : Menata Hati, Motivasi
0 Komentar untuk "Yang Mesti Kita Lakukan Sekarang adalah Menjaga Lisan dan Berbaik Sangka"

Back To Top