Dari Mereka Aku Berusaha Belajar

BACA JUGA :

Membaca, menjadi bagian terpenting dari sebuah peradaban dengan segala
perubahannya. Islam, yang mengenalkan etos membaca ini, yang salah
satunya dibuktikan dengan wahyu pertama yang turun kepada Nabi
Muhammad SAW, adalah perintah membaca.

Apa yang harus dibaca? Oleh para ulama kita diajarkan untuk membaca,
membaca ayat qauliyah ( ayat al-Qur'an dan hadits ) serta ayat
kauniyah, berupa hamparan semesta dengan segala fenomenanya.

Dalam kaitan membaca ayat kauniyah ini, aku sering terharu, menangis
dalam hati, melihat para "pejuang" kehidupan, yang dengan segala daya,
segala potensi, dan juga keikhlasannya memperjuangkan "sesuatu" yang
menjadi keyakinannya.

Di satu saat aku bertemu beberapa orang guru sekolah agama atau
TKA-TPA. Dengan semangatnya, mereka mengajar agama bagi anak-anak
muslim di sekitarnya, 6 hari dalam seminggu, 2 jam perhari. Berapa
"gaji" mereka? Bila dihitung, jumlah muridnya 20 orang, bayaran
sebulan Rp 10 ribu, jadi sebulan pendapatan lembaga dua ratus ribu.
Jumlah guru ada 5 orang. Berapa per gurunya? Sekitar 40 ribu sebulan.
Lunturkah semangat mereka dengan "gaji" sebesar ( atau sekecil :( )
itu? Jawabannya TIDAK. Inilah pelajaran IKHLAS dan TOTALITAS yang
kudapat dari mereka.

Dalam kesempatan lainnya, kucoba masuk ke dunianya seorang pedagang
kacang rebus. Ia berjualan mulai pukul 5 sore hingga malam hari, entah
sampai jam berapa, mungkin hingga jualannya habis. Sehari ia
mengantongi keuntungan sekitar 50 ribu kalau laku semua. Ketika
sebagian dari kita asyik menonton tv, main game, atau bahkan tidur,
namun tukang kacang tersebut merasa yakin malam itu Allah akan
memberikan rizki bagi ia dan keluarganya. Ini pelajaran kehidupan
kedua yang kudapat dari seorang tukang kacang, KEYAKINAN dan SIKAP
OFTIMIS.

Setiap hari Ahad, di depan rumahku selalu lewat seorang tukang sol
sepatu. Terkadang kutukar jasanya mensol sepatu atau sandal, dengan
beberapa ribu rupiah upahnya. Ia tidak muda, usianya sekitar 55 tahun.
Tiap hari berjalan kaki, menawarkan jasanya untuk memperbaiki alas
kaki. Untuk jasanya ini, paling besar ia dibayar 10ribu. Kalau
dihitung, jarak yang ia tempuh dengan berjalan kaki sekitar 20
kilometer. Rata-rata pendapatannya sekitar 50 ribuan. Mengeluhkah ia
dengan kondisi ini? Sepanjang aku berinteraksi dengannya, tak ada
dalam ucapannya keluhan. Ia menyikapi pekerjaannya dengan santai dan
bahkan guyonan. Dari tukang sol sepatu inipun aku belajar dan mendapat
hikmah. Ia "mengajarkan" MAKNA KESABARAN dan KETABAHAN.

Berjuta fenomena, berjuta kondisi, yang dialami orang-orang di sekitar
kita. Bila kita selami, insya Allah ayat-ayat kauniyah ini memberikan
pelajaran atau ibrah. Pelajaran hidup nyata yang bisa diteladani, bisa
dijadikan sandaran, pembanding bagi kondisi yang kita alami.

Dari mereka aku belajar dan selalu ada pelajaran di setiap fenomena
dan kejadian.

Alaa kulli hal, mudah-mudahan bermanfaat.

Salam Guru Blogger
www.diaf.web.id
Termasuk Kategori : Cerita Kang Deni
0 Komentar untuk "Dari Mereka Aku Berusaha Belajar"

Back To Top