"Ketika Orang Gila Bicara", sebuah Prosa Penyadaran

BACA JUGA :


Suatu hari ketika aku sedang melipat baju dan menyetrika kenangan,
sesosok tubuh muncul mengagetkan.

Rambut gimbal berantakan
berbau busuk, dan rupa menghitam; kurang mandi barangkali. Minta mie,
nasi, atau roti, katanya.

Orang gila, kata anakku. Dia takut dengan ucapan itu dan memandang
jernih bola mata anakku, sambil mengelus perut kerempeng dan tetap
menanti sejumput rasa kenyang bergulir melalui tadahan tangan.

Punyakah engkau uang? Tanyaku bercampur haru di cuaca yang kelam pada
minggu kelabu. Sinar matanya suram, menusuk-nusuk otakku yang
memikirkan di mana rumahnya, mengapa ia berlaku antara waras dan
tidak, dan berbagai pertanyaan lain mendesak-desak di benak.

Jangan bawa aku ke rumah sakit gila, katanya. Di sana tidak bisa
memerdekakan diri, memaki hidup penuh tragedi. Lebih baik menghitung
bebatuan sepanjang jalan, menjadi hiburan orang-orang haus komedi, dan
menertawai diri sendiri ketika salah membilang warna pelangi.

Biar, biarlah tetap begini. Dalam dunia teka-teki, Anda pun tak bisa
berpuas diri, bukan? Pertanyaannya menohok hati.

Pada minggu kelabu ketika cahaya matahari suram, sinar mata muram, dia
menggumam, aku bukan orang gila.

Setangkup roti dan nasi melompat ke dalam pelukannya. Hening
menggunting udara yang kuhirup.

( Ratna Ayu Budhiarti, PR )
Termasuk Kategori : Menata Hati, Tassawuf
0 Komentar untuk ""Ketika Orang Gila Bicara", sebuah Prosa Penyadaran"

Back To Top