3 Dusta Yang Diperbolehkan

BACA JUGA :

Dusta diperbolehkan dalam beberapa hal, yaitu pada saat perang, ketika mendamaikan di antara orang-orang yang bermusuhan, dan di antara suami istri. Hal ini berdasarkan hadits dari Umu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu'ied r.a, riwayat Muslim. Umu Kultsum berkata :

" Aku tidak pernah mendengar Rasulullas saw. memberikan keringanan pada perkataan manusia kecuali dalam tiga perkara, yaitu pada saat perang, pada saat mendamaikan permusuhan di antara manusia, dan dalam perkataan suami terhadap istrinya, serta perkataan istri terhadap suaminya."

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra., Rasulullah saw. Bersabda :
" Perang adalah tipu daya" ( Mutafaq 'alaih)

Diriwayatkan dari Asma binti Yazid, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda :
" Wahai manusia, apa yang mendorong kalian terus-menerus dalam dusta, seperti halnya laron yang berputar mengitari api. Setiap dusta pasti akan dicatat atas anak Adam, kecuali dalam tiga perkara, yaitu suami yang berdusta kepada istrinya agar menyukainya, seorang yang berdusta untuk melakukan tipu daya dalam peperangan, dan seorang yang berdusta antara dua orang muslim karena ingin mendamaikan keduanya." (HR. Ahmad)

Ibnu Hajar berkata dalam kitab al-Fattah, " Para ulama telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan dusta antara suami istri, hanyalah dusta dalam perkara yang tidak akan menggugurkan hak keduanya, atau dusta yang tidak mengakibatkan salah satunya akan mengambil perkara yang bukan haknya. "

Imam an-Nawawi berkata dalam Syarah Muslim, " Maksud dusta suami kepada istri dan sebaliknya adalah dusta ketika menampakkan cinta kasih dan ketika berjanji kepada perkara yang tidak wajib, atau yang sejenisnya. Adapun dusta di antara suami istri dengan maksud menipu untuk mendapatkan perkara yang bukan haknya, maka dusta seperti ini hukumnya haram berdasarkan ijma' kaum Muslim."

Contoh dusta dalam hal kewajiban nafkah atas istri, misalkan suami berkata, " Aku tidak memperoleh keuntungan di pasar." Contoh dusta dalam hal kewajiban istri adalah ketika suami mengajaknya ke pelaminan, lalu ia mengatakan, " Aku sedang haid.". Dusta semacam ini jelas diharamkan.

Demikian uraian singkat mengenai 3 dusta yang diperbolehkan menurut syari'at. Materi ini dikutip dari buku " Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah", terbitan Hizbut Tahrir. Semoga bermanfaat !
Termasuk Kategori : Menata Hati, Tassawuf
0 Komentar untuk "3 Dusta Yang Diperbolehkan"

Back To Top