Kisah Akhwat Mualaf, Tegar di Tengah Kekecewaan

BACA JUGA :

Ini kisah seorang rekan kerja saya dulu ketika mengajar di sebuah sekolah Islam. Seorang akhwat, yang usianya 4 tahun lebih tua dari saya. Menjadi muallaf sekitar tahun 1995-an. Keluarganya, termasuk orang tuanya, hingga kini masih Nasrani, termasuk keluarga kaya.

Kebersamaan bekerja di institusi tersebut, berjalan dari tahun 1996 hingga 2005, karena saya pindah tugas ke sekolah lain. Profil beliau pernah saya tulis di Tabloid Hikmah ( Grup Pikiran Rakyat ), dan alhamdulillah, salah satu sebab musabab beliau diangkat jadi guru kontrak oleh Kementerian Agama Cianjur.

Apa yang menarik dari seorang muallaf ini?

Akhwat ini, yang berasal dari keluarga Nasrani kaya, dengan kebulatan tekadnya, rela meninggalkan semua itu. Ia pergi untuk memeluk Islam dan menikah dengan seorang sopir, yang subhanalloh penghasilannya pun tak tetap.

Akhwat muallaf ini mengajar mata pelajaran Fisika di dua madrasah sekaligus. Sementara sang suami tetap menjadi sopir angkot, yang terkadang 'nganggur' juga kalau kebetulan muatan sepi.

Buah pernikahannya melahirkan satu orang putri dan satu orang putra. Walau rumah belum punya, dan kehidupan ekonomi yang sempit, namum akhwat ini tetap tegar dan setia mendampingi suaminya.

Sekian tahun saya tidak bertemu dengannya. Dan ketika bertemu, subhanalloh putri sulungnya kini sedang kuliah di UPI Bandung, dan putra bungsunya baru lulus dari sebuah SMP. Dalam benak saya terfikir, bagaimana ia mengatur kehidupan rumahtangga nya yang ditopang ekonomi yang 'morat-marit', mengingat status guru kontraknya pun sudah lama dicabut. Dengan kondisi seperti itu saya merasa bangga akan ketegaran jiwanya.

Sekian bulan berikutnya, saya ketemu lagi. Ngobrol 'ngaler-ngidul', semuanya tampak normal. Tapi di ujung pembicaraan, ia mengatakan, bahwa ia sudah bercerai dengan suaminya. Lho kenapa? Sontak saya bertanya. Ia masih tampak tenang, menceritakan bahwa kesetiaannya mendampingi suaminya, seakan bertepuk sebelah tangan. Ia setia walau suaminya tak berpenghasilan tetap. Namun, ternyata dibalas dengan pengkhianatan. Sang suami dengan terus terang mengakui, "na'udzubillah", telah menzinahi sekian perempuan, sewaktu biduk rumah tangga masih dikayuh bersama akhwat muallaf ini.

Tak ada luapan kemarahan dari mulut teman saya ini, hanya lantunan istigfar menghiasi bibirnya, ketika mendengar pengakuan suaminya. Kecewa, tentu. Tapi ia pun menghargai kejujuran suaminya. Sekian puluh tahun hidup serba kekurangan, bersama suaminya, namun tak ia sangka akan diakhiri dengan sebuah peristiwa yang menghantam kesetiaannya.

Lanjut ceritanya, akhirnya ia mengajukan perceraian dengan segala sikap terbaik, tanpa kemarahan, tanpa raut kekesalan. Akhirnya, setelah berpisah, ia memutuskan untuk pindah domisili ke Purwakarta.

Ini sepenggal kisah manusia yang tegar dalam menjalani kehidupan. Kesetiaan, berusaka ia taburkan. Dibumbui dengan kerja keras, meminimalisir keluh kesah, dan rela dengan ketentuan Allah SWT.

Mohon doanya untuk sahabat sesama muslim ini, semoga Allah membalas ketegaran dan kesabarannya dengan kebarokahan tiada tara...Aamiin.

Sumber gambar : 4ssyifa. Wordpress.com
Termasuk Kategori : Dunia Akhwat
0 Komentar untuk "Kisah Akhwat Mualaf, Tegar di Tengah Kekecewaan"

Back To Top