Beginilah Hukum Perempuan Menyanyi !

BACA JUGA :

Bagaimana hukum perempuan menyanyi? Sebuah kesimpulan pertanyaan dari akhwat Hadiatul Hilmiah, melalui rubrik " Fiqih Perempuan" di Majalah Ummi. Yuk kita simak penjelasan Ustadzah Lutfiah Ruslan yang sengaja Kang Deni sajikan untuk antum semua.:)

Menurut pendapat Imam Syafi'i dan beberapa ulama lain seperti Imam Al-Alusy, suara perempuan bukanlah aurat. Sebab, perempuan berhak melakukan jual beli dan memberikan persaksian di depan hakim, dalam hal ini tentunya ia mesti memperdengarkan suaranya.

Imam Al-Alusy dalam tafsirnya, Ruuhul Ma'any jilid 18, mengatakan," Suara perempuan bukanlah aurat, maka itu tidak haram mendengar suara perempuan kecuali jika dikhawatirkan timbulnya fitnah."

dalam hal ini menurut pendapat yang paling kuat, jika suatu fitnah dapat dihindarkan maka suara perempuan bukan aurat. Alasannya, banyak istri Rasulullah saw yang telah meriwayatkan hadits dan berbicara kepada para sahabat yang bukan mahrom mereka, dan hal itu tidak ditentang dan tidak berdosa.

Menurut Imam Ibnu Katsir, perempuan itu diharamkan melakukan apa saja yang dapat mengundang ( atau menjadi perhatian ) orang lain, termasuk memakai wangi-wangian.

Rasulullah saw bersabda, " Dan perempuan jika memakai wangi-wangian lalu berjalan di tempat orang berkumpul maka dia adalah PEZINA." Termasuk seperti pezina adalah orang yang menggerak-gerakana kedua tangannya agar kelihatan gelang-gelang dan perhiasannya. Demikian menurut Ibnu Katsir.

Menurut Imam Abu Bakar Al-Jossos, yang bermazhab Hanafi, dalam kitabnya Ahkamul Quran jilid 3, berdasar QS An-Nur : 31, " Dan janganlah perempuan-perempuan yang beriman itu memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan, " menunjukkan bahwa perempuan yang beriman itu diharamkan mengeraskan suaranya dalam berbicara sekirany orang-orang lain yang bukan mahromnya dapat mendengarnya. Dan jika suaranya itu lebih dekat untuk menimbulkan fitnah dari sekedar suara kalungnya.

Karena itu ulama-ulama madzhab Hanafi memakruhkan perempuan beradzan karena adzan itu membutuhkan suara yang keras dan perempuan dilarang mengangkat suaranya.

Itu dalam urusan ibadah. Bagaimana sekarang perempuan-perempuan, yang bukan hanya mengeraskan suaranya untuk bernyanyi, tetapi juga berlenggok-lenggok di depan orang untuk mendapatkan perhatian?

Silakan sahabat menyimpulkannya sendiri!
Termasuk Kategori : Dunia Akhwat, tsaqafah
0 Komentar untuk "Beginilah Hukum Perempuan Menyanyi !"

Back To Top