Lebay-nya Media Massa Dalam Kasus Angeline

BACA JUGA :

Pemberitaan masif tentang Angeline memang sukses menjadi perhatian nasional. Namun tanpa bermaksud mengecilkan nyawa Angeline--ekspos yang berlebihan telah menciptakan opini liar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Apalagi berbagai narasumber--sebagian tidak kompeten--membuat pernyataan-pernyataan tendensius yang kian memperkeruh tragedi ini. Terjadilah tuduh-menuduh, saling caci dan hujatan masyarakat, berusaha menghukumi sendiri -sendiri kasus ini.

Memang, dewasa ini terjadi pergeseran dalam dunia media massa, kualitas berita tidak lagi dinilai dari penting atau tidaknya sebuah informasi. Menarik dan dramatis, serta dekat dengan pembaca, itu lebih ditonjolkan. Kasus Angeline memenuhi unsur itu.

Hidupnya penuh ironi: gadis cilik berwajah cantik, lahir dari keluarga miskin yang tak mampu membayar uang persalinannya, lalu diasuh orang tua angkat sejak usia 3 hari, tidak terurus sejak ayah angkatnya meninggal, ke sekolah jalan kaki, selalu terlambat dan bau tai ayam, dinyatakan hilang, dan ditemukan tewas di pekarangan rumahnya sendiri dalam kondisi memeluk boneka.

Inilah sebabnya Angeline terus menerus menjadi headline media massa. Karakter media mainstream, selalu bicara market. Bagaimana menyajikan berita menarik yang menjual, bukan lagi menyajikan berita penting tapi tidak laku.

Jadi, jangan kaget jika tragedi Angeline dianggap lebih menjual dibanding menderitanya anak-anak Rohingya, Syam, Palestina dan negeri muslim lainnya. Mereka dianiaya, bahkan juga dibunuh dengan cara kejam. Jumlahnya bukan hanya seorang, tapi jutaan. Fakta penting bagi dunia Islam, namun tidak menarik di mata media sekuler mainstream.

Sumber : Tabloid Media Umat
Termasuk Kategori : agenda muslim
0 Komentar untuk "Lebay-nya Media Massa Dalam Kasus Angeline"

Back To Top