Pelitpun Butuh Modal

BACA JUGA :

DENIKURNIA.COM - TERNYATA tidak hanya untuk menjadi dermawan saja Anda perlu modal. Juga untuk pelitpun butuh modal. 
Beberapa sahabat mempergunjingkan beberapa kawan yang makin kaya menjadi makin pelit. Ada yang memang berbakat pelit dari sono-nya. Ada yang terpengaruh oleh suatu subkultur tertentu. Ada yang memang dikondisi oleh rasa milik yang berkembang sesuai dengan bertambahnya kekayaan.
Ada kawan yang rumahnya seperti istana, tapi untuk beli genthong ia menawar secara amat militan seolah-olah sedang memperjuangkan nasib 165 juta rakyat. Ia juga tidak punya rasa tersentuh atau keterharuan, misalnya, ketika memandang bungkuk si penjual genthong.
Ada kawan yang kalau naik becak, melihat-lihat approach Pak Pembecaknya. Kalau dia ngentol (pura-pura tidak mau, padahal mau), secara tak wajar, maka sang kawan pun menanggapinya secara profesional. Kalau Pak Pembecak bersikap “manusiawi”, tak segan ia memberi dua kali lipat dari harga yang ditawarkan.
Tetapi obrolan kawan-kawan ini terutama berkisar pada rekan-rekan yang pelitnya seperti akik Yaman. Misalnya, sudah jelas dia yang paling berduit: dia mengajak ke warung, ternyata kita yang harus membayari.
Pelit ialah punya sesuatu yang sebagiannya bisa di-share, tapi disimpan saja di kantong dalam.
Kalau tak punya apa-apa lantas tak bisa ngasih apa-apa, itu bukan pelit.
Jadi kalau ingin tidak pelit, yang paling aman ialah dengan tak punya apa-apa. Mau?

Termasuk Kategori : Kolom Emha
0 Komentar untuk "Pelitpun Butuh Modal"

Back To Top