Ketika Utang dan Biaya Nikah Dijamin Oleh Negara

BACA JUGA :

DENIKURNIA.COM – Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, yang tak lebih dari 2 tahun, banyak kebijakan strategis yang dilakukan. Khususnya terkait dengan jaminan kebutuhan dasar dan kesejahteraan masyarakat.

Sumber Baitul Mal pada waktu itu, bukan hanya zakat, tetapi juga jizyah, pajak, khumus rikaz ( seperlima harta temuan), ghanimah ( rampasan perang), dan kharaj. Semua ini dikelola sedemikian, sehingga bisa didistribusikan kepada masyarakat, termasuk subsidi langsung.

Ketika wali Irak, Abdul Hamid bin Abdurrahman, terjadi surat-menyurat antara Khalifah dengan sang wali :
Khalifah               : “ Bagikan subsidi itu kepada rakyat”.
Abdul Hamid       : “ Saya telah membagikan subsidi mereka, tetapi harta di Baitul Mal masih melimpah”.
Khalifah               : “ Kalau begitu, periksalah orang-orang yang memiliki hutang dengan teliti, hitung benar-benar agar tidak terlewat. Lalu, bayarlah utangnya.”
Abdul Hamid       : “ Sesungguhnya saya telah membayar utang-utang mereka, tetapi harta di Baitul mal masih melimpah.”
Khalifah               : “ Kalau begitu carilah para pemuda dan pemudi yang tidak mempunyai harta, dan ingin menikah. Nikahkanlah mereka dan bayarlah mas kawinnya.”
Abdul Hamid       : “ Saya pun sudah menikahkan mereka, tetapi harta di Baitul Mal masih melimpah.”
Khalifah               : “ Siapapun yang mempunyai kewajiban membayar jizyah atau kharaj, tetapi mempunyai kesulitan, maka berilah pinjaman sejumlah harta agar bisa mengelola tanahnya. Karena aku tidak ingin mereka berlarut-larut dalam penderitaan dalam satu atau dua tahun.”

Merekapun mendapatkan pinjaman modal dari Baitul Mal, sehingga tanah-tanah pertanian mereka pun terkelola dengan baik. Pendapatan negara pun meningkat, seiring dengan meningkatnya produktivitas masyarakat.

Melimpahnya harta Baitul Mal ini merupakan buah dari kebijakan ekonomi dan politik yang adil. Menurut Ibnu Katsir, ketika Khalifah al-Mu’tadhid (w.279 H), Khlaifah Abbasiyah wafat, beliau telah mewariskan dana Baitul Mal sebesar 17 juta Dinar, atau setara dengan Rp. 50.575 milyar ( lima puluh trilyun lima ratus tujuh puluh lima milyar rupiah). Dana ini sangat besar untuk ukuran zaman itu.

Dengan dana yang begitu besar, tidak ada kesulitan bagi Baitul Mal untuk mendanai seluruh kebutuhan pokok rakyatnya, seperti sandang, papan, pangan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Bahkan, bukan hanya kebutuhan pokok yang bisa dipenuhi oleh negara, namun negara khilafah pun mampu memberikan subsidi, melunasi utang-utang, sekaligus membiayai pernikaha mereka yang tidak mampu menikah.

Kebijakan seperti ini tidak pernah ada dalam sejarah peradaban manapun, kecuali peradaban Islam yang agung dan mulia. Maka, wajar jika Umar bin Abdul Aziz dalam dua tahun saja bisa memberantas kemiskinan, sehingga tidak ada lagi mustahik zakat, karena kerja keras dan keadilannya yang luar biasa.


Begitulah indahnya sistem Islam, jika diterapkan dengan baik dan sempurna. Hasinya sungguh luar biasa. (#mediaumat)
Termasuk Kategori : Dunia Muslim
0 Komentar untuk "Ketika Utang dan Biaya Nikah Dijamin Oleh Negara"

Back To Top