Cerpen Kursi Roda Untuk Ibuku (2)

BACA JUGA :

 
Cerpen Kursi Roda Untuk Ibuku

oleh Annisa Pramuditha, SMAN 1 Mande Cianjur( Pemenang ke-3 Lomba Cipta Cerpen Harian Cianjur Ekspres)

Lanjutan....
Perjalanan kami lanjutkan, hingga akhirnya menemukan “tempat tinggal” bagi  kami. Tepatnya di pinggir rel kereta api, ada sebuah gubuk yang terbuat dari tumpukan dus dan  karung-karung bekas. Memang tempat yang tak layak jika di pikirkan. Namun, kami sudah terbiasa dengan tempat seperti ini.
Tak terasa sudah satu minggu kami tinggal di sini.  Siang ini cuaca cerah, matahari seperti biasa “menyapa” alam dengan “senyuman” yang khas. Seperti hari-hari biasa, aku menjalaninya dengan mengamen untuk mengais rezeki. Tapi...Kenapa ya..koq perasaanku gelisah, gundah, dan selalu terbayang wajah ayah. Jangan-jangan ayah....Ah, sudahlah..aku membuang jauh-jauh pikiran buruk itu. Mungkin ini hanya kerinduan saja,  aku terus saja melanjutkan aktivitasku.
 Dari kejauhan, aku melihat kerumunan orang yang mengelilingi “sesuatu”. “Ada apa yah ?” gumamku penasaran. Aku berlari mendekati tempat itu. ”Permisi.. permisi!” kataku. Kulihat sesosok jasad terbujur kaku, darah bercucuran di mana-mana. Dan ternyata, sesosok jasad itu jasad ayahku.
Allahu akbar!” Aku tak kuasa menahan derasnya air mata yang mengalir di pipiku. Entah berapa lama aku berdiam diri melihat jasad ayahku yang terbaring lemah dan tak berdaya.”Ayaaahh.. jangan tinggalkan aku dan ibu, ayaah” teriakku. Menurut saksi mata, ayah tertabrak kereta yang hendak melintas. Ayah tak mendengarnya, memang ayahku sedikit memiliki gangguan telinga. “Ayah, begitu cepatnya kau berpulang. Aku, dan engkau memiliki harapan untuk membelikan ibu sebuah kursi roda”.
Memang kami harus menerima kenyataan yang ada, namun tetap saja kesedihan melandaku dan juga ibu.  Kami hanya bisa berdoa semoga ayah di tempatkan di sisi Allah dan bahagia di akhirat sana.  Aku sedih sekali, namun aku tak boleh menyerah, aku harus tetap berusaha membahagiakan ibu meski kini ayah tak lagi ada di antara kami. Tekadku, aku harus semakin bersemangat bekerja dan belajar agar aku dapat membuktikan pada ibu dan almarhum ayah, bahwa aku bisa menjadi wanita hebat yang seperti ayah dan ibu katakan dahulu.
Hari ini, angin membelai bunga-bunga yang di halaman rumahku. Burung-burung bernyanyi dan beterbangan dengan riang gembira seperti yang aku rasakan sekarang. Kejadian beberapa tahun yang lalu, merubah semuanya. Merubahku saat ini, menjadi wanita hebat yang seperti ayah dan ibu katakan dulu. Aku menghela nafas lega setelah semua kesulitan, kesedihan, dan kegetiran dapat kulalui.  Allah “memberikan” hadiah bagiku. Aku mendapat beasiswa pendidikan dari pemerintah, karena prestasi dan kegigihanku menjalani hidup, mungkin itu alasannya. Semua itu merubah kehidupanku menjadi lebih baik. Terima kasih ya Allah!
Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku yang menunjukan pukul 07.00. Hari ini  hari spesial ibuku. Aku bergegas mengambil jaket dan kunci mobil di kamarku, dan berpamitan kepada ibu. Tentu untuk membeli hadiah “rahasia” untuk ibuku tersayang. Inilah saat yang paling bahagia dalam hidupku. Kupeluk erat-erat tubuhnya yang sudah mulai “sepuh”. “Bu ini aku belikan hadiah spesial untuk ibu. Aku berharap ini dapat berguna bagi ibu”, kataku sambil mencium keningnya. “Terima kasih Nak atas segalanya yang telah kau berikan kepada ibu. Kau adalah anugerah Allah  untukku. Kau adalah bidadari kecilku yang sudah tumbuh dewasa. Ibu bangga padamu Nak. Ibu harap kau tetap menjadi bidadari kecilku yang selau berusaha dan tak pantang menyerah dalam menjalani hidup. Meski kau sudah mendapatkan semuanya sekarang. Sekali lagi terimakasih atas segalanya Nak”, ucap ibuku sambil memelukku. ”Yah ibu, aku pun ucapkan terimakasih untuk ibu atas semua yang sudah ibu perjuangkan untukku. Kau adalah seorang ibu yang baik yang dapat menginspirasi anakmu ini. Semua pengorbananmu untukku takkan pernah kulupakan sampai kapanpun, dan tak akan terbayarkan oleh apapun, terimakasih ibu atas segalanya.”

Sekaranglah hari spesial ibu,  22 Desember. Sebuah hari penyadaran bagi semua insan, bahwa pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu tidaklah dapat di gantikan oleh apapun, oleh siapapun.  Mungkin hanya dapat digantikan dengan kebanggannya terhadap kita yang berusaha untuk membuatnya bahagia.  “SELAMAT HARI IBU”.
Termasuk Kategori : cerpen
0 Komentar untuk "Cerpen Kursi Roda Untuk Ibuku (2)"

Back To Top