Berhala Kekhusyukan

BACA JUGA :


Seorang musafir berhenti di sebuah masjid. Ia lelah, gerah, penat, pegal, dan pening. Terlebih, sepanjang jalan ia merasa sepi di tengah ramai, dan asing di tengah khalayak. Di masjid itu ia menemukan ketenangan. Wudhunya serasa membasuh seluruh jiwa raga. Ketika air itu menyapu, ia seperti bisa melihat noktah-noktah hitam dosanya luntur berleleran, mengalir hanyut bersama air.

Dalam shalatnya ia benar-benar merasa berdiri di hadapan Sang Pencipta. Tiap bacaannya seolah dijawab oleh-Nya. Ia merasakan getar keagungan. Ini pertama kalinya ia bisa terisak-isak dalam sujudnya. Hatinya diselimuti perasaan tenteram, sejuk, penuh makna. Dia merasakan sebuah ekstase.

*

Saat lain ia lewat di masjid itu. Ia memang sengaja ingin shalat di sana. Ia rindu kekhusyukannya. Masjid ini memancarkan keagungan. Pilar-pilarnya tegak kokoh, berlapis marmer kelabu. Kolom-kolom setengah lingkarannya manis dengan ukiran geometris. Lampu-lampunya remang dibingkai logam mengilat bersegi delapan. Lantainya lembut menyambut tiap sujud, dingin menyejukkan khas granit hitam.

Ia memilih shalat di sebalik tiang berbalut kuningan yang berukir ayat suci. Ia mencoba menghayati shalatnya. Tapi aneh. Kali ini, ia tak menemukan getar itu. Ia kehilangan kekhusyukannya. Benar. Ia kehilangan semua perasaan itu. Tak ada ekstase. Tak ada kelezatan rohani. Tak setitikpun air matanya sudi meleleh.

Dalam sesal ia menguluk salam. Ke kanan, lalu ke kiri. Dan matanya menumbuk terjemah sebuah kaligrafi di dinding selatan. Terbaca olehnya, ”Barangsiapa mencari Allah, ia mendapatkan kekhusyukan. Barangsiapa mengejar kekhusyukan, ia kehilangan Allah.”

*

Alangkah malang para penyembah kekhusyukan. Khusyuk menjadi tujuan, bukan sarana menuju Allah _Subhanahu wa Ta’alaa_. Maka perhatian utama dalam shalatnya terletak pada bagaimana caranya agar khusyuk, atau setidaknya terlihat khusyuk.

Ayuhai, andai kau tahu bagaimana Sang Nabi dan sahabat-sahabatnya shalat. Mereka mendapatkan kekhusyukan bukan karena mencarinya. Mereka khusyuk karena shalat benar-benar perhentian dari aktivitas maha menguras di sepanjang jalan cinta para pejuang. Mereka khusyuk karena payahnya diri dan kelelahan yang membelit melahirkan rasa kerdil dan penghambaan sejati.

Seperti para penyembah Al-Masih merumit-rumitkan trinitas ketuhanan, berhala kekhusyukan juga sering disulit-sulitkan. Tak salah sebenarnya mengutip kisah bahwa ’Ali ibn Abi Thalib meminta dicabut panahnya ketika beliau shalat. Agar sakitnya tak terasa karena khusyuk shalatnya.

Tak salah juga meneladani ’Abbad ibn Bisyr yang tetap melanjutkan shalat meski satu demi satu anak panah mata-mata musuh menancap di tubuh. Tapi apakah hanya itu yang disebut khusyuk?

Sang Nabi adalah manusia yang paling khusyuk. Dan alangkah indah kekhusyukannya. Kekhusyukan yang seringkali mempercepat shalat ketika terdengar olehnya tangis seorang bayi. Atau memperpendek bacaan saat menyadari kehadiran beberapa jompo dalam jamaahnya.

Kekhusyukan yang tak menghalanginya menggendong Umamah binti Abil ’Ash atau Al Hasan ibn ’Ali dalam berdirinya dan meletakkan mereka ketika sujud. Kekhusyukan yang membuat sujudnya begitu panjang karena Al Husain ibn ’Ali main kuda-kudaan di punggungnya.

*

Sahabat, inilah jalan cinta para pejuang. Khusyuk dan gelora kenikmatan rohani hanyalah hiburan dan rehat, tempat kita mengisi kembali perbekalan dan melepas penat. Ini adalah jalan cinta para pejuang.

Bukan jalan para pengejar kenikmatan rohani, hingga harus mengulang-ulang takbiratul ihram sampai sang imam ruku. Ini bukan jalan para penikmat kelaparan yang ketakutan berkumur saat puasa tapi diam saja menyaksikan kezhaliman. Juga bukan jalan penikmat Ka’bah yang kecanduan berhaji sementara fakir miskin lelah mengetuk pintu rumahnya yang selalu terkunci.

Senarai sejarah memberi pelajaran tentang para pengejar kenikmatan rohani. Mereka jauh terlempar dari jalan cinta ini. Ada yang merasa diri menjadi mukmin yang baik; karena bisa menangis saat shalat, bisa terharu saat membagi zakat, bisa berdzikir hingga hilang kesadaran saat berpuasa, atau berhaji setahun sekali; terbuta mereka dari dunia Islam yang serak memangil-manggil.

Inilah mereka yang selalu bicara agama sebagai urusan pribadi. Urusan pribadi untuk menikmati kesyahduan spiritual. Bagi mereka, alangkah nikmatnya shalat khusyuk di atas sajadah mahal, dalam ruangan berpendingin, dengan setting pemandangan yang bisa diatur berganti-ganti. Khusyuk adalah menikmati bacaan imam bersertifikat dari audio premium, dalam hembusan harum parfum aromaterapi.

Jauh di sana, di jalan cinta para pejuang, Sang Nabi shalat di sela-sela jihad menegakkan syari’at. Dengan debu, dengan darah, dengan lelah, dengan payah.

*

Yang lain, mencari pelarian dari tekanan dunia yang menghimpit. Menikmati rasa tenteram karena dzikirnya, rasa melayang karena laparnya, rasa syahdu karena gigil tubuhnya. Ia bertapa dalam pakaian campingnya, hidup dalam kefakirannya, lalu merasa menjadi makhluk yang paling dicintai Allah. Tapi tak pernah wajahnya memerah ketika syari’at Allah dilecehkan.

Tak pernah ia merasa terluka melihat kezaliman. Tak pernah hatinya tergetar melihat nestapa sesama. Orang-orang semacam si Sufi dari Ganggoh. Dialah si burung unta yang merasa aman saat membenamkan kepalanya ke dalam pasir. Padahal tubuhnya terguguk tepat di depan pelupuk pemburu.

*

Ekstase. Kenikmatan rohani. Kekhusyukan. Jangan kau kejar rasa itu. Dia bukan tuhanmu. Dan tak hanya seorang muslim yang beroleh kemungkinan merasakan ekstase macam itu. Tanyakan pada seorang beragama Budha, penganut Zen, Tao, atau praktikan Yoga.

Merekapun mengalaminya lewat meditasi dan rerupa puja. Seorang Nasrani dari Ordo Fransiskan yang melarat merasakannya dalam pengembaraan bertelanjang kaki ala kemiskinan Kristus. Seorang Nasrani dari Ordo Benediktin yang mewah menikmatinya dalam mengoleksi relik-relik suci peninggalan para bapa gerejawi.

Bukan itu.
Bukan itu yang kita cari.

Di jalan cinta para pejuang, berbaktilah pada Allah dalam kerja-kerja besar dakwah dan jihad. Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman.

Larilah hanya menuju-Nya. Meloncatlah hanya ke haribaan-Nya. Walau duri merantaskan kaki. Walau kerikil mencacah telapak. Sampai engkau lelah. Sampai engkau payah. Sampai keringat dan darah tumpah.

Maka kekhusyukan akan datang kepadamu ketika engkau beristirahat dalam shalat. Saat kau rasakan puncak kelemahan diri di hadapan Yang Maha Kuat. Lalu kaupun pasrah, berserah..

Saat itulah, engkau mungkin melihat-Nya, dan Dia pasti melihatmu...

(Kiriman
Teh Diyani** SSG 29)

Dinukil dan diselia dari *"Ekstase Mi’raj" oleh Salim A. Fillah, 2011
_Bagian Kedua_

posted from Bloggeroid

Termasuk Kategori : Ibadah, Motivasi
0 Komentar untuk "Berhala Kekhusyukan"

Back To Top