Melihat Wajahnya, Aku Ingat Perjuangannya

BACA JUGA :


Alhamdulillah... Allah memudahkan segala urusanku selama proses menuju walimahan.  Semua Ikhwan dan  Akhwat yang ada di kampus saling bahu membahu membantu semampunya, tidak terkecuali Mba Nisa dan sohibku Qonita.  Orangtuaku yang di kampung pun ikut merasa amat bahagia karena melihat teman-temanku yang begitu peduli terhadapku. 

Malam sebelum walimahan, Aku menangis di depan Ayah.   Malam itu... Aku tidak kuat melihat wajah Ayah dalam-dalam karena setiap melihat wajahnya Aku mengingat perjuangannya melunakkan hatiku untuk masuk ke universitas itu.  

Sekarang, Ayahku sudah tidak bisa berdiri dengan tegak.  Beliau menggunakan kursi roda karena serangan struk namun tetap saja di hadapanku Ayah selalu bersikap bahagia. 

 Kamu kenapa menangis  Nak?  Tanya Ayah lembut.

 “Ayah... maafkan Fitri, maafkan fitri ya, pintaku sambil memeluk Ayah.

 Maaf?  Maaf untuk apa Nak?  Tanya Ayah sambil membelai kerudung hitamku.  

 "Maaf karena dulu Fitri egois... Fitri sangat egois".

"Nak... Ayah tidak akan memaafkanmu!!!"

"Kenapa Yah?"

" Karena kamu tidak mempunyai kesalahan pada Ayah.  Ayah justru bahagia, bahkan sangat bahagia karena sekarang kamu menjadi sosok muslimah yang cantik dengan balutan kerudung yang Ayah impikan sedari dulu.  

Benarkah Yah?  Ya, benar nak.  Ayah bangga padamu, suara ayah bergetar.

 “Ayah...terimakasih.  Fitri menjadi lebih baik karena dukungan Ayah”.  Suaraku sambil menangis.

"Nak...besok kamu akan menjadi seorang Putri.  Jadilah putri yang berbakti kepada Raja, suara Ayah tertahan.  

Besok, tanggung jawab Ayah terhadapmu akan diserahkan kepada suamimu.  Jadilah isteri yang berbakti kepada suamimu Nak.  Jangan buat suamimu sakit hati karena syurgamu ada di suamimu, suara Ayah tegar.

 Insya Allah...terimakasih Yah... Fitri akan berusaha semampu Fitri.  Doakan Fitri agar tetap istiqomah.  Semoga Akh Hafiz benar-benar pilihan terbaik yang Allah berikan untuk Fitri, kataku sambil terus memeluk Ayah

 "Aamiin ...." Ayah mengaminkan doaku. 

Pelukanku kepada Ayah semakin erat dan isakanku pun semakin keras terdengar.  Demikian juga dengan pelukan Ayah.  Beliau memelukku dengan penuh rasa sayang dan disertai air mata kebahagiaan.

Khansa S@F
#Penggalan Novelet  "Syukran Akhi, Melaluimu Aku Mencintai-Nya"


Termasuk Kategori : cerpen, Dunia Akhwat
0 Komentar untuk "Melihat Wajahnya, Aku Ingat Perjuangannya"

Back To Top