Perlukah Perahu Nabi Nuh diulang Kembali?

BACA JUGA :

Sahabat, Al Qur'an penuh dengan ibrah, tuntunan dari kisah, dan panduan melangkah. Kita pun pernah membaca tentang kisah Nabi Nuh a.s. Seperti ayat-ayat berikut :

[36.41] Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, 


[36.42] dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. 

[36.43] Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. 

[36.44] Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. 


(QS.Yasin : 41-44) 

Inilah kelompok ayat material berikutnya, yang Allah hamparkan kehadapan umat manusia, agar mereka dapat mudah memahami risalah para Rasul, dan tidak malah menentangnya, agar mereka senantiasa mendapatkan rahmat dan bukan laknat. 

Kali ini Allah mengedepankan aktifitas keseharian yang biasa mereka saksikan bahkan juga mereka lakukan yaitu berkendara, baik itu dilautan maupun di daratan dan (kemudian) di udara, dimana factor keselamatan hingga ke akhir tujuan, sering menjadi factor yang tak sepenuhnya bisa diprediksi secara manusiawi, rahmat Allah jualah yang akhirnya jadi penentu. Untuk itulah karenanya Rasulullah saw mengajarkan do’a sebelum dan sesudah safar, yang sepenuhnya berisikan pujian, syukur serta kepasrahan pada takdir dan rahmat Allah Dzat yang Maha Rahman dan Rahim. 

Dalam kajian As Sa’diy, kelompok ayat ini sekali lagi merupakan bukti ketuhanan dan keagungan Allah, hanya Dialah Dzat yang berhak disembah, sebab hanya Dialah sesungguhnya Dzat yang memberi anugerah dan karunia, bahkan hanya Dia jugalah yang sesungguhnya dapat membebaskan serta menyelamatkan hamba-Nya dari pelbagai cobaan justru dengan nikmat dan karunia-Nya.


Salah satu buktinya adalah bagaimana Allah telah menyelamatkan nenek moyang mereka ketika mereka dalam kapal yang sangat penuh dengan barang dan penumpang yang hampir saja tenggelam. Allah menyelamatkan mereka, ketika itu, Allah juga mengajarkan kepada mereka cara-cara menyelamatkan diri serta sarana-sarana yang diperlukan untuk itu.

Nikmat ini karenanya pastilah juga nikmat bagi anak turun mereka, baik karena keselamatan itu sendiri, sehingga kehidupan manusia dengan berbagai kreasinya dapat terus berlangsung, bahkan kini mereka dapat mengembangkan berbagai jenis kendaraan, kalau dahulu hanya kapal layar, kini kapal uap bahkan kapal selam dan kapal-kapal modern lainnya, kalau dulu kendaraan darat hanya unta, kini berbagai kendaraan bermesin telah memenuhi dunia, bahkan dapat menggantikan fungsi unta, kini bahkan ada jenis kendaraan lainnya, yaitu pesawat udara dengan berbagai jenis dan keistimewaannya. 

Begitulah salah satu kemu’jizatan al-Qur’an dalam pengungkapan, dimana ia sekaligus mencakup factor ilmu dulu, kini, maupun yang akan datang. 

Karunia keselamatan ini menjadi semakin berarti, sebab dalam kelompok ayat ini juga sekaligus disebutkan bagaimana bila seandainya Allah berkehendak untuk menenggelamkan mereka, niscaya mereka akan tenggelam, dan bila demikian tak kan ada satupunorang yang dapat menyelamatkannya, kecuali -lagi-lagi- bila Allah menurunkan rahmat dan kasih sayang-Nya, mereka semakin bersyukur, atau agar mereka segera mengkoreksi dan memperbaiki diri, melaksanakan berbagai kebaikan yang terlewatkan, dan menyesalkan berbagai kejahatan yang terlanjur dikerjakan. 

Allah masih memberi tenggang waktu hingga batas tertentu bagi umat manusia (perhatikan Taisir Karim ar-rahman VI/172) 

Adapun Sayyid Quthub meninjau kelompok ayat ini sebagai kelanjutan yang logis dari kelompok ayat sebelumnya, kalau sebelumnya disampaikan tentang kelompok benda langit –matahari dan bulan- yang “berenang” di angkasa kini disampaikan kelompok benda bumi yang “berenang” di atas lautan maupun daratan. Ada keserupaan, baik dalam asal kejadiaannya, gerakannya, maupun pada tugas keduanya untuk kepentingan manusia sesuai dengan rencana Allah SWT, yang keduanya sama-sama menunjukkan akan kekuasaan Allah baik di langit maupun di bumi. 

Kelompok ayat kali ini, sesungguhnyalah lebih diakrabi oleh umat manusia, bukan saja karena kedekatan jarak, tetapi bahkan mereka dapat terlibat langsung dengannya, baik dalam factor pembuatan maupun pemanfaatan, sehingga memudahkan mereka untuk mentadabburinya, bila mereka mau membuka hati nurani. Apalagi ketika mereka terlibat dalam menaiki perahu di tengah lautan yang bergelombang, atau menaiki pesawat di tengah buruknya cuaca, mereka tentu merasakan langsung bagaimana nilai keagungan serta rahmat Allah itu. (Perhatikan Fi Dzilalil Qur’an V/ 2969-2970). 

Demikian banyak bukti-bukti yang telah Allah tampilkan di tengah umat manusia yang menggambarkan akan keagungan Allah, melainkan juga rahmat Allah serta hajat umat kepada-Nya. Sayangnya ternyata lebih banyak umat yang kufur nikmat ketimbang yang mensyukurinya sepenuhnya. 

Perlukah sejarah perahu Nabi Nuh terulang kembali?! 

(DR. M. Hidayat Nur Wahid)


Sumber: Buletin Tafakur.
Termasuk Kategori : al Qur'an, Cerita Hikmah, tsaqafah
0 Komentar untuk "Perlukah Perahu Nabi Nuh diulang Kembali?"

Back To Top