DENIKURNIA.COM

DENIKURNIA.COM

7 Watak Jahat Yahudi

"Yang memperjuangkan KHILAFAH dituduh anti NKRI sedangkan yang bermesraan dengan YAHUDI ZIONIS PENJAJAH dianggap paling NKRI"

Diantara tanda dekatnya kiamat adalah munculnya fitnah yang sangat dahsyat yang digambarkan oleh Nabi yang mulia bagaikan potongan malam yang gelap gulita. Pagi seseorang beriman, sorenya kafir dan sebaliknya sore beriman, paginya kafir. Penyebabnya adalah karena mereka menjual agama untuk mendapatkan dunia.

Hati-hati saudaraku jangan sampai mencintai orang yang seharusnya dibenci dan juga sebaliknya jangan sampai membenci orang yang seharusnya dicintai.

Kalimat TAUHID itu mengandung konsekuensi Al-Wala & Al-Bara.
Cintailah yang seharusnya dicintai dan bencilah yang memang harus dibenci.

TAK KENAL MAKA TAK BENCI

Mari kita bedah watak kaum YAHUDI yang disebutkan oleh Allah ta'ala didalam Al-Qur'an dan yang di jelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam didalam As-Sunnah.
Ada beberapa watak kaum Yahudi yang sudah semestinya diketahui seorang muslim sehingga bisa diketahui siapakah mereka sebenarnya.

WATAK PERTAMA : Yahudi adalah suatu kaum yang sangat keras permusuhannya dan paling dahsyat kebenciannya kepada orang beriman

Mari kita tadabburi firman Allah ta'ala berikut ini;

لَـتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الْيَهُوْدَ ...
"Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi ..." (QS. Al-Ma'idah : 82)

Kalau seorang muslim benar keimanannya maka pasti akan dibenci oleh kaum Yahudi. Setiap Mu'min pasti Muslim akan tetapi tidak setiap Muslim itu Mu'min.

Jadi yang dibenci oleh kaum Yahudi itu adalah Mu'min Haqqan, Mu'min yang benar imannya.
Tidak mungkin orang yang benar keimanannya akan bermesraan dengan Yahudi. Hanya orang-orang yang bermasalah keimanannya yang mau mendekat dan bermesraan dengan kaum Yahudi.

WATAK KEDUA : Mereka tidak akan pernah ridho dengan kita umat Islam sampai kita mau melepaskan agama kita

Perhatikanlah firman Allah ta’ala berikut ini;

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ...
"Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka ..." (QS. Al-Baqarah : 120)

Saudaraku janganlah kita terpengaruh dengan kaum sekuler dan liberal yang keliru dalam memahami ayat ini. Kaum sekuler berpendapat bahwa ayat ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja ketika beliau masih hidup. Kata mereka kaum Yahudi dan Nashrani yang ada di zaman ini berbeda dengan yang dulu. Benarkah demikian?

Sungguh, ini adalah kekeliruan yang sangat besar yang berasal dari orang yang ingin mengaburkan ajaran Islam. Ketahuilah bahwa ayat ini memang ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi pembicaraan ini juga mencakup umatnya karena yang menjadi hukum adalah keumuman dan bukan hanya orang yang diajak bicara. Itulah yang dipahami oleh para ulama Ahlus Sunnah, seperti Syeikh As-Sa’di dalam tafsirnya. Berbeda dengan mereka yang sudah diracuni dengan pemikiran orang barat yang kafir.

Berdasarkan ayat di atas sangat jelas sekali bahwa kaum Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah ridho kepada kita selamanya. Inilah watak orang Yahudi dan Nashrani sampai hari kiamat.

WATAK KETIGA : Orang Yahudi selalu menyembunyikan kebenaran
Mereka kaum Yahudi sebenarnya tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai penutup para rasul di akhir zaman ini, tetapi mereka selalu menyembunyikan kebenaran ini. Allah ta’ala berfirman;

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 146)
Imam Al-Qurtubhi mengatakan;
"Diriwayatkan bahwasanya Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata kepada Abdullah bin Salam, "Apakah engkau (sebelum masuk Islam) mengenal Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana engkau mengenal anak-anakmu sendiri? Abdullah bin Salam pun menjawab, "Ya, bahkan lebih dari itu."

Walaupun mereka sudah mengenal Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat yakinnya, namun Allah ta'ala menegaskan bahwasanya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran. Maksudnya adalah mereka menyembunyikan sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada didalam kitab mereka kepada manusia, padahal mereka mengetahuinya. (silahkan rujuk kitab tafsir Al-Qur’anil 'Azhim, karya Imam Ibnu Katsir pada tafsir surat Al-Baqarah ayat 146)

WATAK KEEMPAT : Tokoh agama Yahudi sangat sulit menerima kebenaran Islam
Didalam kitab shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَوْ تَابَعَنِى عَشْرَةٌ مِنَ الْيَهُودِ لَمْ يَبْقَ عَلَى ظَهْرِهَا يَهُودِىٌّ إِلاَّ أَسْلَمَ
"Seandainya sepuluh (pemuka agama) Yahudi mengikuti agamaku, maka sungguh tidak akan tersisa lagi orang Yahudi di muka bumi ini kecuali dalam keadaan Islam." (HR. Muslim no. 2793)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
لَوْ آمَنَ بِى عَشْرَةٌ مِنْ أَحْبَارِ الْيَهُودِ لآمَنَ بِى كُلُّ يَهُودِىٍّ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ
"Seandainya sepuluh pemuka agama Yahudi beriman kepadaku, sungguh semua orang Yahudi di muka bumi ini akan turut beriman padaku." (HR. Ahmad. Syeikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi, yaitu shahih dilihat dari jalur lainnya)

WATAK KELIMA : Orang Yahudi berusaha keras untuk memurtadkan kaum muslimin
Allah ta’ala berfirman;

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ...
"Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran ..." (QS. Al-Baqarah : 109)

WATAK KEENAM : Orang Yahudi akan terus berusaha untuk menyesatkan kaum muslimin
Allah ta’ala berfirman;

وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
"Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya." (QS. Ali 'Imran : 69)

WATAK KETUJUH : Selalu mendoakan kecelakaan atau kematian bila bertemu dengan kaum muslimin
Dari 'Abdullah bin 'Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمُ الْيَهُودُ فَإِنَّمَا يَقُولُ أَحَدُهُمُ السَّامُ عَلَيْكَ . فَقُلْ وَعَلَيْكَ
"Jika seorang Yahudi memberi salam padamu dengan mengatakan "Assaamu ‘alaikum" (semoga kamu mati), maka jawablah "wa ‘alaika" (semoga do’a tadi kembali padamu)." (HR. Al-Bukhari no. 6257)

Sumber : FB Ustadz Roni Abdul Fattah

Berburu Sehat di Griya Ummat Sehat

DENIKURNIA.COM-Berburu sehat di sebuah klinik Thibbun Nabawi dan TCM,
"Griya Ummat Sehat", layanan kesehatan holistik dan fundamental.

Klinik yang dikelola Ustad Dani, ini beralamat di Jalan Siliwangi
Cikalongkulon Cianjur. Melayani pengobatan berbagai penyakit, semisal
jantung, darah tinggi, diabetes, stroke, dll. Juga syaraf kejepit dan
patah tulang.

Berdasar pengalaman saya berobat, klinik ini cukup ramai, dengan harga
terapi yang sangat terjangkau. Ditambah, terapis yang "care". Di
tempat ini juga melayani pemeriksaan mata dan penjualan kacamata.

Memang semua ini adalah upaya menjemput kesehatan, sebagai karunia
dari Allah, maka seyogyanya semua kesembuhan digantungkan total
kepada-Nya.

Maka ikhwah fillah, bila antum sedang diuji dengan sakit, tak ada
salahnya datang ke klinik ini. Semoga Allah memberikan kesembuhan
kepada kita semua.

Untuk Akhwat yang Senantiasa Istiqomah di Jalan Dakwah


Teduh hijabnya bagai perisai panas dan terik dunia, ialah perlindungan tak hanya dari lirik tatap lelaki, juga penjagaan bagi dirinya, pengingat jatidirinya sebagai hamba
Entah mengapa ia senantiasa tertunduk, kala susah dan kala bahagia. Saat bermunajat pada Tuhannya, saat membaca surat cinta dari Tuhannya, saat memohon pada Tuhannya
Mungkin itulah sebab ia selalu bisa menjaga pandangannya, sebab pikir manusia tidak ada yang bisa menyangka, tapi pikir dan pandangan sendiri masih dalam kendalinya
Sesekali ia meringis, risau akan kaumnya. Layar gawainya mengiris hatinya, betapa Muslimah saat ini tak lagi bermesra dengan malu, apalagi bicara mulia
Ia saksikan kaumnya, berlenggak-lenggok diatur irama, di dalangi oleh hawa nafsu. Tangan dan kaki mereka berjoget sementara jiwa mereka mengidolakan fana
Apapun asal terkenal meski harus menjadi hamba eksistensi, tutorial dandan dan seratus mode transisi, iseng dan narsisme yang sudah keterlaluan atas nama kreasi manusia
Semakin erat pelukannya pada Al-Qur'an, yang kini seolah sudah jadi barang dari dimensi yang berbeda. Ditinggalkan oleh kaumnya, tak lagi dirindukan, dilupakan begitu saja
Ia menghela nafas panjangnya, kembali melantunkan ayat-ayat Tuhannya. Ia tak hendak menyerah, dakwah adalah jalan cintanya. Islam adalah hidup dan matinya
Azzam itu ditanam dalam sukmanya, andai Allah memilihnya untuk mengemban amanah keturunan, maka akan dia siapkan generasi-generasi herois bersahaja
Sampai waktu itu tiba, sampai jemputan itu tiba, ia terus bersabar, terus bersama dengan mereka yang menyeru di jalan Allah, meninggikan kalimat Tuhannya
Jangan tanya lelah, jangan tanya airmata. Tapi itulah namanya pengorbanan karena cinta. Yang ia yakini adalah, Tuhannya Allah, satu-satunya, dan takkan pernah ingkar janji-Nya

Ustadz Felix Siauw

Puisi Buya Hamka untuk Muhammad Natsir

Bicara yang lagi viral sejak semalam, soalan masuk daftar atau tidak. Who cares? Ini ada daftar yang lebih penting yang kita inginkan. Daftarnya mereka yang berjuang di jalan Allah, dakwah Islam hingga kapanpun.

Kisah ini terjadi, saat M. Natsir berpidato mengurai kelemahan sistem buatan manusia, dan tegas menawarkan Islam sebagai dasar NKRI pada sidang konstituante
Kala itu M. Natsir dan organisasinya sudah diancam, ditakut-takuti, difitnah dan dituduh segala hal, dan sudah menanti baginya hukuman dan hal lebih buruk lainnya bila dia tetap menginginkan Islam diterapkan di negeri ini
Puisi ini dukungan HAMKA bagi M. Natsir dan penegasan asas hidupnya, dimuat di bagian depan buku HAMKA, “Islam Sebagai Dasar Negara”

Kepada Saudaraku M. Natsir
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu…..!

Inilah puisi HAMKA pada M. Natsir seusai pidatonya pada Sidang Konstituante RI 1957
Aku ingin masuk daftar ini juga, daftarnya HAMKA dan Natsir, dan siapapun yang mendakwahkan Islam dibawah liwa' Nabi Muhammad saw. Anda?

Felix Siauw
gambar dari skifkunram.com

Ketika Fir'aun Berkuasa

Ketika Fir’aun berkuasa, dirinya dikelilingi pemuka agama, konglomerat, dan juga para penjaga keamanan.
Ketika Fir’aun berkuasa, di sisi kanannya ada Bal-am bin Ba’ura. Bal-am adalah seorang pemuka agama, yang dengan penguasaannya atas dalil-dalil agama di zamannya, dia memutar-mutar lidahnya demi membenarkan semua tindakan Fir’aun dan dengan kejinya menuding orang-orang yang memperjuangkan kebenaran sebagai penjahat dan kriminal. Bal’am menjual akherat dan agamanya demi kehidupan dunia yang bergelimang harta.
Ketika Fir’aun berkuasa, di sisi kirinya ada Qarun. Qarun adalah seorang pengusaha yang kaya raya, dimana seluruh harta kekayaannya tidak bisa dihitung di masa itu. Dengan kekayaannya ini dia menjadi penopang utama kekuatan rezim Fir’aun. Dengan ‘memelihara’ Firaun maka Qarun bisa mendapatkan banyak sekali keistimewaan-keistimewaan dan segala konsensi yang dia inginkan untuk lebih memperbanyak harta dunianya. Qarun tidak pernah terpuaskan dahaganya terhadap kekayaan dan kekusaan dunia, termasuk segala kelezatan duniawi yang didapatkannya berkat kedekatannya dengan Fir’aun.
Ketika Fir’aun berkuasa, angkatan perang dan aparat keamanan semuanya berada di dalam genggaman tangannya. Dengan sewenang-wenang Fir’aun bisa setiap saat memerintahkan aparatnya untuk menangkapi dan bahkan menghabisi orang-orang yang tidak disukai atau yang melancarkan kritik kepadanya. Bagi Fir’aun, segala perkataan dan tindakannya adalah hukum yang harus ditaati oleh siapa pun. Segala perkataan dan tindakannya adalah kebenaran. Jika Fir’aun mengatakan air di lautan berwarna hitam, padahal jelas-jelas terlihat biru di depan mata, maka semua rakyatnya harus meyakini jika air laut memang berwarna hitam. Jika pun Fir’aun mengucapkan kedustaan, maka rakyat semuanya harus tunduk dan percaya jika kedustaannya Fir’aun adalah kebenaran.
Fir’aun ingin berkuasa selama-lamanya. Kekuasaan atas dunia sangat melenakan dan sangat dinikmatinya. Sebab itu dia selalu membunuh semua kritik dan sikap permusuhan yang dilakukan oleh siapa pun. Bahkan dengan cuma mengandalkan kecurigaan, dia bisa menghabisi orang yang dianggap bisa sebagai lawannya. Di masa itu, Fir’aun membunuh semua bayi laki-laki hanya karena dia bermimpi seorang bayi laki-laki akan lahir dan setelah besar akan menjadi lawannya yang tangguh yang mampu mengalahkannya.
Ketika Fir’aun berkuasa, semua yang ada di dekatnya merasa kekuasaan mereka abadi.
Namun Allah Subhana wa Ta’ala punya kehendak. Makaru wa makarallah. Tidak ada kejahatan yang abadi di dunia. Allah Swt akan memunculkan orang-orang pemberani dan yang hanya taat kepada-Nya, yang melakukan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan Fir’aun dan semua pendukungnya.
Tidak ada kejahatan di muka dunia ini yang abadi. Tidak ada pemimpin zalim di dunia ini yang bisa hidup selamanya. Dunia berputar, dan kezaliman akan selalu digantikan oleh keadilan. Itu sudah sunnatullah.
Bagi mereka yang tak pernah lelah dan tak pernah surut memperjuangkan kebenaran, bersabarlah. Karena ketika Fir’aun berkuasa, dengan sangat kuat dan nyaris tak terkalahkan, tiba-tiba muncul Musa a.s dari dalam istananya sendiri, yang memimpin perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran, yang mengalahkan Fir’aun dan seluruh pasukannya hingga ditelan amarah Laut Merah. Yakinlah, kebenaran insyaAllah akan  menang. []
sumber : eramuslim.com, gambar dari http://islammozaikterkini.blogspot.co.id

Bolehkah Seorang Wanita Tidak Memakai Kaos Kaki Ketika Keluar Rumah?

DENIKURNIA.COM - Seseorang bertanya, apakah boleh seorang wanita yang sudah baligh, tidak mengenakan kaos kaki ketika keluar rumah? Berikut jawabannya yang saya ambil dari jawaban Usadz Ahmad Salwat, LC di sebuah milis.

I. Aurat Wanita : Seluruh Tubuhnya Kecuali Wajah dan Tapak Tangan

a. Ijma' Shahabat


Para shahabat Rasulullah SAW sepakat mengatakan bahwa wajah dan tapak tangan wanita bukan termasuk aurat. Ini adalah riwayat yang paling kuat tentang masalah batas aurat wanita.

b. Pendapat Para Fuqoha Bahwa Wajah Bukan Termasuk Aurat Wanita.

Al-Hanafiyah mengatakan tidak dibenarkan melihat wanita ajnabi yang merdeka kecuali wajah dan tapak tangan. (lihat kitab Al-Ikhtiyar). Beliau mengatakan yang termasuk bukan aurat adalah wajah, tapak tangan dan kaki, karena kaki adalah sebuah kedaruratan yang tidak bisa dihindarkan.

Al-Malikiyah dalam kitab 'Asy-Syarhu As-Shaghir' atau sering disebut kitab Aqrabul Masalik ilaa Mazhabi Maalik, susunan Ad-Dardiri dituliskan bahwa batas aurat wanita merdeka dengan laki-laki ajnabi (yang bukan mahram) adalah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Keduanya itu bukan termasuk aurat.

Asy-Syafi`iyyah dalam pendapat As-Syairazi dalam kitabnya 'al-Muhazzab', kitab di kalangan mazhab ini mengatakan bahwa wanita merdeka itu seluruh badannya adalah aurat kecuali wajah dan tapak tangan.

Dalam mazhab Al-Hanabilah kita dapati Ibnu Qudamah berkata kitab Al-Mughni 1: 1-6, "Mazhab tidak berbeda pendapat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan tapak tangannya di dalam shalat."

Daud yang mewakili kalangan Zahiri mengatakan batas aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuai muka dan tapak tangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Nailur Authar. Begitu juga dengan Ibnu Hazm mengecualikan wajah dan tapak tangan sebagaiman tertulis dalam kitab Al-Muhalla.

c. Pendapat Para Mufassirin

Para mufassirin yang terkenal banyak yang mengatakan bahwa batas aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Mereka antara lain At-Thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razy, Al-Baidhawi dan lainnya. Pendapat ini sekaligus juga mewakili pendapat jumhur ulama.

II. Terlihat Bagian Kaki : Dibolehkan Karena Dharurrat Oleh Al-Hanafiyah

Kita sudah tahu kesepakatan para fuqaha tentang batasan aurat wanita, masalahnya adalah: bolehkah seorang wanita terlihat sedikit pada bagian kaki karena sulit untuk menutupinya? Sebab tidak terlalu mudah bagi para wanita terutama di pedesaan dan pada komunitas tertentu untuk menutup bagian kakinya, karena semua tahu bahwa kaki sangat dibutuhkan untuk bergerak ke sana ke mari.

Kalau diperhatikan, dalam mazhab Al-Hanafiyah sebagaimana yang kami sebutkan di atas, ada semacam keringanan bagi wanita yang sulit untuk bisa menutup bagian kakinya karena masalah aktifitasnya, maka mereka membolehkan karena bersifat darurat. Misalnya bila kita perhatikan para wanita di pedalaman atau di pedesaan yang seringkali ikut bekerja di ladang, kebun atau sawah. Seringkali mereka harus menceburkan kakinya di sawah. Akan menjadi sangat merepotkan bila kaki masuk sawah dengan tetap menggunakan kaus kaki, bukan?

Karena itulah hal-hal seperti ini telah dipikirkan oleh kalangan mazhab Al-Hanafiyah, sehingga dalam prakteknya, para wanita pendukung mazhab ini memang tidak terlalu memikirkan masalah pakai kaus kaki, bahkan mereka seringkali terlihat shalat hanya dengan mengenakan rok panjang dan bagian kaki mereka masih terlihat, seperti laki-laki memakai sarung.

Sedangan pendapat jumhur ulama memang mewajibkan untuk menutup bagian kaki secara penuh karena merupakan aurat. Dan shalat dengan terlihat kakinya adalah shalat yang tidak syah.

Wallahu a'lam bishshawab, Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc. 

Tafsir QS Al 'Ashr ayat 1-3

Menelang Laihan Menembak SSG 29

Mereka menyebutkan bahwa Amr ibnul As menjadi delegasi untuk menjumpai Musailamah Al-Kazzab. Demikian itu terjadi sesudah Rasulullah Saw. diutus dan sebelum Amr masuk Islam.

Musailamah berkata kepadanya, "Apakah yang telah diturunkan kepada temanmu sekarang ini?" Amr menjawab bahwa telah diturunkan kepadanya surat yang pendek, tetapi padat akan makna. Maka Musailamah bertanya, "Surat apakah itu?" Amr membacakan firman-Nya:

" وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ "
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al-'Asr: 1-3)

Maka Musailamah berpikir sejenak, kemudian ia mengatakan bahwa telah diturunkan pula kepadanya hal yang semisal. Amr ibnul As bertanya, "Apakah itu?" Musailamah berkata,
يَا وَبْر يَا وَبْر، إِنَّمَا أَنْتِ أُذُنَانِ وصَدْر، وَسَائِرُكِ حَفْزُ نَقْز
"Hai kelinci, hai kelinci, sesungguhnya engkau hanyalah dua telinga dan dada, sedangkan anggota tubuhmu yang lain kecil mungil."

Kemudian Musailamah berkata, "Bagaimanakah menurut pendapatmu, hai Amr?" Amr menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar mengetahui bahwa aku pasti meyakinimu sebagai pendusta."

Penulis mengatakan bahwa ia pernah melihat kitab yang berjudul Musawil Akhlak karya tulis Abu Bakar Al-Kharaiti menyebutkan dalam juz kedua sesuatu dari kisah ini atau yang lebih mendekatinya.

Al-Wabar artinya kelinci, bagian yang paling menonjol darinya adalah sepasang telinga dan dadanya, sedangkan anggota tubuh yang lain kecil mungil lagi jelek. Maka Musailamah bermaksud menyusun igauan ini untuk menandingi Al-Qur'an. Akan tetapi, hal tersebut tidak mampu mempengaruhi penyembah berhala di masanya dan tidak pula dapat mengelabuinya.

Imam Tabrani menyebutkan melalui jalur Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Ubaidillah ibnu Hafs yang menceritakan bahwa dahulu pernah ada dua orang sahabat Rasulullah Saw.; apabila keduanya bersua satu sama lainnya, maka keduanya tidak berpisah sebelum salah seorangnya membacakan surat Al-'Asr kepada yang lainnya sampai akhir surat, lalu baru yang seorang mengucapkan salam kepada yang lainnya, salam perpisahan.

Imam Syafii rahimahullah telah mengatakan bahwa seandainya manusia merenungkan makna surat ini, niscaya surat ini akan membuat mereka mendapat keluasan.

Tafsir Ibnu Katsir

Buku Putih Politik Santri Jawa Barat : Islam teh Sunda, Sunda teh Islam

Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) sudah semakin dekat. Para calon mulai menggalang dukungan, terutama dari basis masa pesantren (pengasuh dan para santrinya).

Pesantren dengan para santrinya kembali menjadi sasaran penggalangan dukungan dan suara para politisi. Pada satu sisi mereka menolak politisasi agama di pesantren dan masjid, tetapi di sisi yang lain mereka menjadikan masjid dan pesantren sebagai objek dalam memenuhi ambisi politiknya.

Selain itu, pesantren juga menjadi salah satu objek kampanye gerakan anti syariat Islam dan khilafah. Kampanye “Islam Yes, Khilafah No”, mulai dibedah di beberapa pesantren. Slogan itu sangatlah janggal bagi siapa saja yang mempelajari kitab-kitab turats secara utuh. Bagaimana tidak, Islam diterima tetapi pada sisi yang lain pemilik otoritas dalam menjalankan syariat Islam sekaligus institusinya ditolak. Politik Islam akhirnya tidak dimaknai secara sebenarnya. Politik Islam bukan lagi sebagai sistem, tetapi sebagai nilai moral.

Lantas bagaimana sikap santri melihat dua realitas ini? Mengingat Jawa Barat adalah provinsi yang tidak bisa dilepaskan dari akar sejarahnya, sebagai provinsi santri dan medan perjuangan para ulama dan santri dalam melawan penjajahan. Identitas Islam sulit dilepaskan dari Jawa Barat.

" Buku Putih Politik Santri Jawa Barat : Islam teh Sunda, Sunda teh Islam", sebuah e-book yang ditulis oleh Furqonuddin Nugraha, Saif M. Al Amrin, Robi Pamungkas, Irfan Abu Naveed dan Yuana Ryan Tresna, bisa menjadi salah satu referensi kita dalam menentukan sikap dan pandangan.

Bagi antum yang memerlukan buku ini, bisa meng-unduhnya di SINI

Tafsir QS Al Baqarah ayat 44 : Menyuruh Kebaikan tapi Dirinya sendiri Tak Melakukan





أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ (44 )

Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?

Allah Swt. berfirman, "Apakah layak bagi kalian, hai orang-orang ahli kitab, bila kalian memerintahkan manusia berbuat kebajikan yang merupakan inti dari segala kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri dan kalian tidak melakukan apa yang kalian perintahkan kepada orang-orang untuk mengerjakannya, padahal selain itu kalian membaca kitab kalian dan mengetahui di dalamnya akibat apa yang akan menimpa orang-orang yang melalaikan perintah Allah? Tidakkah kalian berakal memikirkan apa yang kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri, lalu kalian bangun dari kelelapan kalian dan melihat setelah kalian buta?"

Pengertian tersebut diungkapkan oleh Abdur Razzaq dari Ma'mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri. (Al-Baqarah: 44) Pada mulanya kaum Bani Israil memerintahkan orang lain taat kepada Allah, takwa kepadanya, dan mengerjakan kebajikan; kemudian mereka bersikap berbeda dengan apa yang mereka katakan itu, maka Allah mengecam sikap mereka. Makna yang sama diketengahkan pula oleh As-Saddi.

Ibnu Jurairj mengatakan sehubungan dengan firman-Nya, "Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan," bahwa orang-orang ahli kitab dan orang-orang munafik selalu memerintahkan orang lain untuk melakukan puasa dan salat, tetapi mereka sendiri tidak melakukan apa yang mereka perintahkan kepada orang-orang untuk melakukannya. Maka Allah mengecam perbuatan mereka itu, karena orang yang memerintahkan kepada suatu kebaikan, seharusnya dia adalah orang yang paling getol dalam mengerjakan kebaikan itu dan berada paling depan daripada yang lainnya.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, "Sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri," yakni meninggalkan diri kalian sendiri dalam kebajikan itu. Firman Allah Swt.: Padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir? (Al-Baqarah: 44) Yakni kalian melarang manusia berbuat kekufuran atas dasar apa yang ada pada kalian, yaitu kenabian dan perjanjian dari kitab Taurat, sedangkan kalian meninggalkan diri kalian sendiri. Dengan kata lain, sedangkan kalian sendiri kafir terhadap apa yang terkandung di dalam kitab Taurat yang di dalamnya terdapat perjanjian-Ku yang harus kalian penuhi, yaitu percaya kepada Rasul-Ku. Ternyata kalian merusak perjanjian-Ku yang telah kalian sanggupi dan kalian mengingkari apa yang kalian ketahui dari Kitab-Ku.

Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu 'apakah kalian memerintahkan orang lain untuk masuk ke dalam agama Nabi Muhammad Saw. dan lain-lainnya yang diperintahkan kepada kalian untuk melakukannya —seperti mendirikan salat— sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri?'.

Abu Ja'far ibnu Jarir meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Jarir, telah menceritakan kepadaku Ali ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Aslam Al-Harami, telah menceritakan kepada kami Makhlad ibnul Husain, dari Ayyub As-Sukhtiyani, dari Abu Qilabah, sehubungan dengan makna firman-Nya: Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? (Al-Baqarah: 44); Abu Darda pernah mengatakan, seseorang masih belum dapat dikatakan sebagai ahli fiqih yang sempurna sebelum dia membenci orang yang menentang Allah, kemudian ia merujuk kepada dirinya sendiri, maka sikapnya terhadap dirinya sendiri jauh lebih keras (ketimbang terhadap orang lain).

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan ayat ini, bahwa orang-orang Yahudi itu apabila datang kepada mereka seseorang menanyakan sesuatu yang tidak mengandung perkara hak, tidak pula risywah (suap), mereka memerintahkan dia untuk mengerjakan hal yang hak. Maka Allah berfirman: Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir? (Al-Baqarah: 44) Makna yang dimaksud ialah Allah Swt. mencela mereka atas perbuatan itu dan memperingatkan mereka akan kesalahannya yang menyangkut hak diri mereka sendiri; karena mereka memerintahkan kepada kebaikan, sedangkan mereka sendiri tidak mengerjakannya. Bukanlah pengertian yang dimaksud sebagai celaan terhadap mereka karena mereka memerintahkan kepada kebajikan, sedangkan mereka sendiri tidak melakukannya, melainkan karena mereka meninggalkan kebajikan itu sendiri. Mengingat amar wa'ruf/hukumnya wajib atas setiap orang alim, tetapi yang lebih diwajibkan bagi orang alim ialah melakukannya di samping memerintahkan orang lain untuk mengerjakannya, dan ia tidak boleh ketinggalan.

Perihalnya sama dengan apa yang dikatakan oleh Nabi Syu'aib a.s. yang disitir oleh firman-Nya:

 {وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ}

Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kalian darinya, aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku berlawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (Hud: 88)

Melakukan amar ma'ruf dan melakukan perbuatan makruf hukumnya wajib, masing-masing dari keduanya tidak gugur karena tidak melakukan yang lain. Demikianlah pendapat yang paling sahih dari kedua golongan ulama, yaitu ulama Salaf dan ulama Khalaf.

Sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang berbuat maksiat tidak boleh melarang orang lain untuk melakukannya. Pendapat ini lemah, dan lebih lemah lagi mereka memegang ayat ini sebagai dalil mereka, karena sesungguhnya tidak ada hujah bagi mereka dalam ayat ini.

Tetapi pendapat yang sahih mengatakan bahwa orang yang alim harus memerintahkan amar ma'ruf, sekalipun dia sendiri tidak mengerjakannya; harus melarang perbuatan yang mungkar, sekalipun dia sendiri mengerjakannya.

Malik ibnu Rabi'ah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa'id ibnu Jubair berkata, "Seandainya seseorang tidak melakukan amar ma'ruf, tidak pula nahi munkar karena diharuskan baginya bersih dari hal tersebut, niscaya tiada seorang pun yang melakukan amar ma'ruf, tidak pula nahi munkar." Malik berkata, "Dan memang benar, siapakah orangnya yang bersih dari kesalahan?"

Menurut kami, dalam keadaan demikian (orang yang bersangkutan adalah seorang yang alim) ia tercela, sebab meninggalkan amal ketaatan dan mengerjakan maksiat, karena dia adalah seorang yang alim dan pelanggaran yang dilakukannya atas dasar pengetahuan, mengingat tidaklah sama antara orang yang alim dengan orang yang tidak alim. Untuk itu, banyak hadis yang mengancam orang yang melakukan hal tersebut. Imam Abul Qasim At-Tabrani di dalam kitab Mu'jamul Kabir telah meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Ma’la Ad-Dimasyqi dan Al-Hasan ibnu Ali Al-Umri; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sulaiman Al-Kalbi, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu Tamimah Al-Hujaimi, dari Jundub ibnu Abdullah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَلَا يَعْمَلُ بِهِ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ وَيَحْرِقُ نَفْسَهُ"
Perumpamaan orang alim yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, sedangkan dia sendiri tidak mengamalkannya, sama dengan pelita; ia memberikan penerangan kepada orang lain, sedangkan dirinya sendiri terbakar.

Hadis ini bila ditinjau dari sanad ini berpredikat garib.
Hadis kedua diketengahkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya:

حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ هُوَ ابْنُ جُدْعَانَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ شِفَاهُهُمْ تُقْرَض بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ. قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ " قَالُوا: خُطَبَاءُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا مِمَّنْ كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ، وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ؟
telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid (yaitu ibnu Jad'an), dari Anas ibnu Malik r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Di malam aku diisrakan, aku bersua dengan suatu kaum yang bibir mereka digunting dengan gunting-gunting api, lalu aku bertanya, "Siapakah mereka itu?" Mereka (para malaikat) menjawab, "Mereka adalah tukang ceramah umatmu di dunia, dari kalangan orang-orang yang memerintahkan orang lain untuk mengerjakan ketaatan, sedangkan mereka melupakan dirinya sendiri, padahal mereka membaca Al-Qur'an. Maka tidakkah mereka berpikir?"

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abdu ibnu Humaid di dalam kitab Musnad-nya, juga di dalam kitab tafsirnya yang bersumber dari Al-Hasan ibnu Musa, dari Hammad ibnu Salamah dengan lafaz yang sama. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Yunus Ibnu Muhammad Al-Muaddib dan Al-Hajjaj ibnu Minhal, keduanya menerima hadis ini dari Hammad ibnu Salamah dengan lafaz yang sama. Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Yazid ibnu Harun, dari Hammad ibnu Salamah dengan lafaz yang sama.
Kemudian Ibnu Murdawaih meriwayatkan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التُّسْتَرِيُّ بِبَلْخٍ، حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ قَيْسٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ ثُمَامَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى أُنَاسٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ وَأَلْسِنَتُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ. قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ " قَالَ: هَؤُلَاءِ خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ، الَّذِينَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ.

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim At-Tusturi di Balakh, telah menceritakan kepada kami Makki ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Qais, dari Ali ibnu Yazid, dari Sumamah, dari Anas yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Di malam aku diisrakan aku bersua dengan orang-orang yang bibir dan lidah mereka digunting dengan gunting-gunting dari api, lalu aku bertanya, "Siapakah mereka itu, hai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka adalah tukang ceramah umatmu yang memerintahkan kepada orang lain untuk melakukan ketaatan, sedangkan mereka melupakan dirinya sendiri."

Hadis ini diketengahkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya dan Ibnu Abu Hatim serta Ibnu Murdawaih melalui hadis Hisyam Ad-Dustuwai, dari Al-Mugirah yakni Ibnu Habib menantu Malik ibnu Dinar, dari Malik ibnu Dinar, dari Sumamah, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan:

لَمَّا عُرِجَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ تُقْرض شِفَاهُهُمْ ، فَقَالَ: "يَا جِبْرِيلُ، مَنْ هَؤُلَاءِ؟ " قَالَ: هَؤُلَاءِ الْخُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ؛ أَفَلَا يَعْقِلُونَ؟

Ketika Rasulullah Saw. dibawa mikraj, beliau bersua dengan suatu kaum yang bibir mereka diguntingi, lalu beliau bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka adalah tukang khotbah dari kalangan umatmu, mereka memerintahkan orang lain untuk mengerjakan kebajikan, sedangkan mereka melupakan dirinya sendiri. Maka tidakkah mereka berpikir?"
Hadis lainnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad, disebut bahwa:

حَدَّثَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، قَالَ: قِيلَ لِأُسَامَةَ -وَأَنَا رَدِيفُهُ-: أَلَا تُكَلِّمُ عُثْمَانَ؟ فَقَالَ: إِنَّكُمْ تُرَون أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ. إِنِّي لَا أُكَلِّمُهُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ مَا دُونُ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا -لَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنِ افْتَتَحَهُ، وَاللَّهِ لَا أَقُولُ لِرَجُلٍ إِنَّكَ خَيْرُ النَّاسِ. وَإِنْ كَانَ عَلَيَّ أَمِيرًا -بَعْدَ أَنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ، قَالُوا: وَمَا سَمِعْتَهُ يَقُولُ؟ قَالَ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ: "يُجَاء بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ بِهِ أَقْتَابُهُ ، فَيَدُورُ بِهَا فِي النَّارِ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيُطِيفُ بِهِ أهلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ مَا أَصَابَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ"

telah menceritakan kepada kami Ya’la ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu Wail yang telah menceritakan bahwa pernah dikatakan kepada Usamah yang saat itu aku membonceng padanya, "Mengapa engkau tidak berbicara kepada Usman?" Usamah menjawab, "Sesungguhnya kalian berpandangan bahwa tidak sekali-kali aku berbicara kepadanya melainkan aku akan memperdengarkannya kepada kalian. Sesungguhnya aku akan berbicara dengannya mengenai urusan antara aku dan dia tanpa menyinggung suatu perkara yang paling aku sukai bila diriku adalah orang pertama yang memulainya. Demi Allah, aku tidak akan mengatakan kepada seorang pun bahwa engkau adalah sebaik-baik orang, sekalipun dia bagiku adalah sebagai amir, sesudah aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda." Mereka bertanya, "Apakah yang telah engkau dengar dari beliau?" Usamah menjawab bahwa dia pernah mendengar Nabi Saw. bersabda: Kelak di hari kiamat ada seorang lelaki yang didatangkan, lalu dicampakkan ke dalam neraka, maka berhamburanlah isi perutnya, lalu berputar-putar seraya membawa isi perutnya ke dalam neraka sebagaimana keledai berputar dengan penggilingannya. Maka penghuni neraka mengelilinginya dan mengatakan, "Hai Fulan, apakah gerangan yang telah menimpamu? Bukankah kamu dahulu memerintahkan kepada kami untuk berbuat yang makruf dan melarang kami dari perbuatan yang mungkar?" Lelaki itu menjawab, "Dahulu aku memerintahkan kalian kepada perkara yang makruf, tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya; dan aku melarang kalian melakukan perbuatan yang mungkar, tetapi aku sendiri mengerjakannya."

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadis yang semisal melalui hadis Sulaiman ibnu Mihran, dari Al-A'masy dengan lafaz yang sama.

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سَيَّارُ بْنُ حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ يُعَافِي الْأُمِّيِّينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا لَا يُعَافِي الْعُلَمَاءَ"
Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Sayyar ibnu Hatim, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, dari Sabit, dari Anas yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Allah memaafkan orang-orang yang ummi di hari kiamat dengan pemaafan yang tidak Dia lakukan terhadap ulama.

Di dalam suatu asar dijelaskan bahwa Allah memberikan ampunan bagi orang yang bodoh sebanyak tujuh puluh kali, sedangkan kepada orang yang alim cuma sekali. Tiadalah orang yang tidak alim itu sama dengan orang yang alim. Allah Swt. telah berfirman:

{قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ}
Katakanlah, "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-Zumar: 9)
Di dalam bab autobiografi Al-Walid ibnu Uqbah, Ibnu Asakir meriwayatkan sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ أُنَاسًا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَطَّلِعُونَ عَلَى أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيَقُولُونَ: بِمَ دَخَلْتُمُ النَّارَ؟ فَوَاللَّهِ مَا دَخَلْنَا الْجَنَّةَ إِلَّا بِمَا تَعَلَّمْنَا مِنْكُمْ، فَيَقُولُونَ: إِنَّا كُنَّا نَقُولُ وَلَا نَفْعَلُ"
Sesungguhnya ada segolongan orang dari kalangan penduduk surga melihat segolongan orang dari kalangan penduduk neraka, lalu mereka bertanya, "Apakah sebabnya hingga kalian masuk neraka? Padahal demi Allah, tiada yang memasukkan kami ke surga kecuali apa yang kami pelajari dari kalian." Ahli neraka menjawab, "Sesungguhnya dahulu kami hanya berkata, tetapi tidak mengamalkannya."

Ibnu Jarir At-Tabari meriwayatkan hadis ini dari Ahmad ibnu Yahya Al-Khabbaz Ar-Ramli, dari Zuhair ibnu Abbad Ar-Rawasi, dari Abu Bakar Az-Zahiri Abdullah ibnu Hakim, dari Ismail ibnu Abu Khalid, dari Asy-Sya'bi dari Al-Walid ibnu Uqbah, kemudian Ibnu Jarir mengetengahkan hadis ini.
Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah kedatangan seorang lelaki, lalu lelaki itu berkata, "Hai Ibnu Abbas, sesungguhnya aku hendak melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar." Ibnu Abbas bertanya, "Apakah kamu telah melakukannya?" Lelaki itu menjawab, "Aku baru mau melakukannya." Ibnu Abbas berkata, "Jika kamu tidak takut nanti akan dipermalukan oleh tiga ayat dari Kitabullah, maka lakukanlah." Lelaki itu bertanya, "Apakah ayat-ayat tersebut?" Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri? (Al-Baqarah: 44) Lalu dia berkata, "Apakah engkau mampu melakukannya?" Lelaki itu menjawab, "Tidak." Ibnu Abbas berkata, "Ayat yang kedua ialah firman-Nya: 'Mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.' (Ash-Shaff: 2-3) Apakah kamu mampu melakukannya?" Lelaki itu menjawab, "Tidak." Ibnu Abbas melanjutkan perkataannya, "Dan ayat yang ketiga ialah ucapan seorang hamba saleh —yaitu Nabi Syu'aib a.s.— yang disitir oleh firman-Nya: 'Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kalian darinya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan (Hud: 88) Apakah kamu mampu melakukan apa yang terkandung dalam ayat ini?" Lelaki itu menjawab, "Tidak." Maka Ibnu Abbas berkata, "Mulailah dari dirimu sendiri!" Demikianlah menurut riwayat Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsirnya.
قَالَ الطَّبَرَانِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحَرِيشِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ خِرَاش، عَنِ الْعَوَّامِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ [سَعِيدِ بْنِ] الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ دَعَا النَّاسَ إِلَى قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَلَمْ يَعْمَلْ هُوَ بِهِ لَمْ يَزَلْ فِي ظِلِّ سُخْطِ اللَّهِ حَتَّى يَكُفَّ أَوْ يَعْمَلَ مَا قَالَ، أَوْ دَعَا إِلَيْهِ"
Imam Tabrani meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abdan ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Khirasy, dari Al-Awwam ibnu Hausyab, dari Al-Musayyab ibnu Rafi', dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa menyeru kepada orang lain untuk berucap atau beramal, sedangkan dia sendiri tidak mengamalkannya, maka ia terus-menerus berada di bawah naungan murka Allah sebelum berhenti atau mengamalkan apa yang telah dia ucapkan atau mengamalkan apa yang telah dia serukan.

Dalam sanad hadis ini terkandung ke-daif-an (kelemahan).
Ibrahim An-Nakha'i mengatakan, sesungguhnya dia benar-benar tidak menyukai bercerita karena tiga ayat, yaitu firman-Nya: Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri? (Al-Baqarah: 44); Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan. (Ash-Shaff: 2-3) Juga firman Allah Swt. menyitir kata-kata yang diucapkan oleh Nabi Syu'aib, yaitu: Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kalian darinya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (Hud: 88)

Sumber : Tafsir Ibnu Katsir, gambar diambil dari alislamu

Dia Yang Menenangkan

Yang menenangkan itu yang dicari, dan itu beda dengan yang hanya buat bergairah. Kita bisa digairahkan dengan wajah atau bentuk badan, tapi ketenangan bukan itu
Ialah rasa nyaman ketika bersamanya, rindu ketika berpisah dengannya. Tenteram ketika engkau pulang kerumah, percaya saat engkau meninggalkan dirinya
Tenang itulah sakinah, tidak meledak-ledak, tidak pula terburu-buru sebagaimana digambarkan di layar kaca. Dan sakinah itu pemberian Allah bagi sesiapa yang dia kehendaki
Menyemangati layaknya siang, menyelimuti layaknya malam. Mencukupi saat kurang, mengingatkan saat lebih. Pelipur saat duka dan kawan yang bisa diajak bersenang
Senantiasa berada di jalan dakwah, dan itu yang terpenting baginya. Maka kepentingannya padamu juga pada dakwah. Tak risau dengan kepunyaan tetangga yang baru
Sisa hari setelah berdakwah ia terima, disempurnakan dengan obrolan-obrolan seputar dakwah, dakwah dan dakwah tanpa henti, sebelum bangun untuk sama-sama bersimpuh sujud
Doa-doanya mengalir deras untukmu, tangannya sibuk untuk membuatmu lebih lega, sementara senyumnya ada selalu untuk meruntuhkan segala penat yang membebanimu
Dia yang menenangkanmu, dia yang menaati Allah. Sebab dia enggan bermaksiat pada Allah, maka dia melayanimu dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, agar berbagi surga

Felix Siauw
Back To Top